Contemplation

Apa Kabar, Kehilangan?

11/28/2017 09:08:00 PM


Kenangan bersama ibu; Kostan Geger Kalong, Bandung.



Rasa-rasanya untuk 26 tahun perjalanan hidup, saya dapat mengatakan bahwa kehilangan adalah guru terbesar dalam hidup saya.


Ada satu moment yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Kala itu di ruang HCU rumah sakit, setelah 3 jam berjuang melawan koma, dokter memberikan isyarat bahwa sepertinya hanya mukzijat yang bisa menyelamatkan ibu. Di tengah keriuhan para tenaga medis yang berusaha keras membuat ibu tetap sadar, saya dan kakak kandung ibu bergantian melafadzkan kalimat-kalimat Allah di telinganya.


Saya masih berharap ibu masih bisa diselamatkan. Namun saturasi ibu semakin memburuk. Hingga pada suatu titik dengan berurai air mata saya berbisik di telinga ibu, “Ibu, jika ibu masih kuat teruslah berjuang untuk hidup. Untuk teteh Chia dan Ezzy. Tapi jika ibu udah engga kuat, ibu boleh pergi. Ibu gak perlu khawatir, insyaAllah segala urusan ibu di dunia akan chia selesaikan."

Tak lama berselang dari itu tepat pukul 11.20 siang ibu saya menghembuskan napas terakhirnya. Ibu kembali kepada Tuhan yang menciptakannya. Seketika tangis sedih meledak. Saya melemah. Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa saya akan kehilangan ibu secepat ini dan dalam kondisi ini. Saat itu saya sedang hamil 3 bulan dan sebelumnya ibu saya sangat mendambakan seorang cucu. 

Saya masih teringang ketika saya petama kali mengabarkan kepada ibu bahwa saya positif hamil, ibu bahagia luar biasa. Ibu berkata bahwa ia tidak sabar menggendong dan mengajak main cucunya kelak. Ibu selalu berucap bahwa kelak dia ingin dipanggil ‘enin’ oleh cucunya. Bahkan Ibu pernah berujar, “udah nanti teteh chia kerja aja, biar anakmu ibu yang ngurus.” Membayangkan itu saya hanya bisa tersenyum karena saya melihat rona kebahagiaan di raut wajah ibu.

Ah tapi ternyata rencana Allah memang lebih indah.

Hari itu Jumat 22 September 2017 saya kehilangan ibu, dimana keesokan harinya tepat tanggal 23 September 2017 merupakan 3 tahun kepergian Ayah. 

Kehilangan ayah dan ibu merupakan salah satu kehilangan terbesar dalam hidup saya. Apa yang paling menyedihkan menjadi yatim-piatu disaat kamu masih ingin membahagiakan ayah dan ibumu? Namun saya bisa apa? Jika pada kenyataan saya memang tidak memiliki apa-apa. Bahkan ayah dan ibu saya sendiri. mereka milik Allah dan kembali ke Allah. 

Hingga detik ini, saya masih sering memimpikan ibu. Di mimpi-mimpi saya, ibu hidup. Kami sering bercengkrama. Begitupun di hati saya, ibu akan hidup selamanya.

Rencana Allah memang lebih indah.

Jika kehilangan ayah dan ibu adalah salah satu kehilangan terbesar di dalam hidup saya, maka kehilangan mereka berdua merupakan suatu proses pembelajaran hidup yang besar pula untuk saya. Allah memberikan saya kesempatan untuk belajar. Allah mengirimkan badai disertai gemuruh dan derasnya hujan. Namun satu hal yang saya selalu percaya, hingga pada waktuNya yang indah kelak Allah akan memunculkan pelangi selepas segala kehilangan ini. insyaAllah.

See other stories

0 comments