My Life's Journal

Menikah dan Serba-serbinya*

6/10/2017 05:16:00 PM


Kebanyakan orang sepertinya setuju bahwa menikah merupakan gerbang awal dalam kehidupan rumah tangga (yang penuh dengan drama). Dan sebelum menuju tahapan itu sepertinya kita perlu memikirkan masak-masak dengan siapa kita akan menikah, apakah kita dan pasangan bisa saling membaikkan, apakah kita dan pasangan bisa menjadi sebuah tim yang saling bekerja sama, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya. Tak terkecuali dengan saya. Setelah melewati proses yang cukup singkat, saya memutuskan untuk menerima pinangan seorang laki-laki yang kini menjadi suami saya. 

Saya dan suami melewati proses yang cukup singkat. Hingga kerabat maupun teman-teman saya cukup terkejut dengan rencana pernikahan saya yang terkesan cukup mendadak. Saya sih menganggapnya tidak mendadak, karena sebelumnya saya juga banyak mempertimbangkan dan meminta Alloh menunjukkan jalan terbaik. Dan entah mengapa, semua jalan selalu tertuju kepada laki-laki yang kini menjadi suami saya. Kami pun dimudahan Alloh mengurus pernikahan dalam waktu singkat. Alhamdulillah.

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk memantapkan hati untuk menikah. Mungkin salah satunya karena faktor ‘lelah dengan drama percintaan ala ala remaja’ saya pun sudah bertekad jika memang ada seorang laki-laki yang mau ‘serius’ dengan saya, dia condong kepada saya, saya condong kepada dia, keluarga 2 belah pihak tidak memiliki masalah, dan Alloh meridhoinya, ya saya mah mau-mau aja (Jual mahal dikit dong, Chi! Ahaha).

Bisa dibilang saya memang perempuan yang cukup realistis. Saya tidak mencari pangeran berkuda putih yang memiliki istana megah untuk menikahi saya. Karena saya sadar, saya bukanlah putri aurora, cinderella, apalagi putri salju. Sehingga yang saya cari adalah laki-laki dengan kepribadiannya. Rumah pribadi, mobil pribadi, villa pribadi, lah lah lah! Karepmu, Chi! Ahahaha.

Berkaca dari segala apa yang saya lihat di lingkungan, bahwa menikah bukanlah akhir dari tujuan hidup. Justru sebaliknya, menikah adalah gerbang dimulainya kehidupan baru. Jadi dengan menikah, bukanlah segala permasalahan hidup akan selesai, justru akan timbul masalah-masalah baru.

Dulu saat saya lagi stres-stresnya ngerjain tesis, saya pernah cerita ke dosen kalo saya mau nikah aja (stress mahasiswa single kebanyakan gitu ya?). Dengan ekspetasi lebih enak nikah kayanya daripada ngerjain tesis (yakali yeuu). Tapi apa kata dosen saya, “permasalahan tesis kamu ini cuma secuil permasalah rumah tangga nanti. Jadi anggep aja latihan buat nanti ngadepin masalah setelah menikah.”

Setelah saya pikir-pikir bener juga. Setelah 2 bulan menjalani pernikahan saya menemukan banyak banget masalah. Dari mulai masalah kecil yang dibesar-besarin, hingga masalah yang beneran gede (ini juga pengaruh saya yang tukang drama kayanya).

Eh saya jadi teringat meme yang pernah saya lihat di media sosial tentang tanggapan Dewi Motik dalam suatu wawancara di Radio Cosmopolitan tentang usia pernikahannya yang telah menginjak 57 tahun. Kira-kira begini isinya,

“Engga ada manusia yang cocok. Jadi, selama ada laki yang engga main perempuan, engga mabok, engga nabok, engga judi ya dicocok-cocokin aja. Perempuan zaman sekarang itu sombong. Kalo merasa dirinya sukses, ada masalah dikit langsung pisah dengan alesan ketidakcocokan. Heh, sampe lebaran monyet juga gak bakalan cocok! cocok-cocokin aja!”

Hahaha menohok yah kata-kata nya.  Saya berkeyakinan bahwa setiap rumah tangga pasti ada cobaanya. Semoga saya dan suami selalu belajar menjadi pribadi yang saling membaikkan.


*Selamat tanggal 8 untuk kedua kalinya bapak suami, semoga bapak selalu tabah menghadapi ibu yang banyak drama. Semoga bapak selalu giat bekerja untuk dapat membeli vespa-vespa. Kalo udah beli vespa, ibu boleh jajan buku-buku kan, Pak?

See other stories

6 comments

  1. Semenjak ditinggalin pacar tahun kemarin. Jadi serem kalo denger kata pernikahan :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam ade,
      Wah semoga traumanya segera sembuh ya dan setelah itu menemukan pelabuhan terakhir melalui pernikahan. Aamiin:)

      Delete
  2. wahahaha, statement "mending nikah" daripada ngerjain tesisnya bikin dosen geleng-geleng tuh. Jangan sampe kalau ada konflik rumah tangga, nanti malah bilang mending ngerjain tesis daripada nikah.. :")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaa iyah, biasalah dulu kelabilan mahasiswa tingkat akhir yg stress ngerjain tesis:')

      Delete
  3. betul gak mungkin 100% cocok semua tapi bgmna kita bisa menenrima kekuarngan dan melihat kelebihannya,

    ReplyDelete