Contemplation

Hidup Orang Lain

2/02/2017 11:28:00 AM



Yes, Life. But how to make the most of it? 
sumber gambar: disini
Beberapa waktu lalu, saya menyempatkan diri untuk bertemu salah satu sahabat lama. Cukup lama kami tidak bertemu, sehingga sudah sewajarnya terciptalah obrolan ngalor ngidul berjam-jam lamanya. Dalam sesi obrolan, kami pun tak jarang menanyakan kabar teman-teman yang lain.

Hingga pada satu titik, sahabat saya ini menceritakan kabar salah satu teman kami. Teman kami ini, sebut saja si A. Saya pribadi cuma mengenalnya sekilas dan tidak berteman dengan A di media sosial. 

Sahabat saya bercerita, bahwa sepertinya kehidupan A itu enak. Punya suami paket komplit (ganteng, soleh, mapan), lalu punya anak yang lucu menggemaskan, dan kehidupan rumah tangga yang kelihatan harmonis. 

Saya tanya, ‘tau dari mana?’ sahabat saya pun menjawab, ‘liat di path-nya A. Si A juga sering banget update jalan-jalan ke tempat a, b, c, tiap weekend. Pokoknya tiap postingannya keliatan bahagia terus deh,' tambah sahabat saya menggebu-gebu.

Saya manggut-manggut kemudian terseyum kecil. Sejenak saya pun berpikir.

Media sosial memang membuat semuanya kini tampak transparan. Manusia bagaikan ikan-ikan yang berenang di dalam akuarium. Semua tampak jelas. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa apa-apa yang ditunjukkan orang lain di media sosialnya tidak serta merta menunjukkan 100% kehidupan aslinya? Dan lagi mungkin saja foto-foto yang tampak indah dipandang mata, dibalik itu semua terdapat perjuangan berdarah-darah.

Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidup orang lain, bukan?

Sebagai contoh saat saya masih tinggal di Bandung, saya sering memposting foto jalan-jalan di sekitaran Bandung bersama teman-teman. Teman-teman saya yang lain sering kali berkomentar “Wah Chi, enak ya jalan-jalan mulu!”.

Padahal kalau saja mereka tau, dari 7 hari dalam seminggu saya cuma punya waktu 1 hari untuk free. Sisanya buat kuliah, ngerjain tugas, dan begadang buat nugas. Saya pun memilih untuk berbagi foto-foto pas saya lagi bahagia aja. Saat saya lagi kusut, jenuh, muak, bete, nangis, engga saya share. See? Ternyata apa yang kita lihat adalah apa yang orang lain pilih untuk dibagikan.

Contoh lain adalah banyak foto-foto indah terutama pasangan sakinnah mawaddah warrahmah yang berseliweran di timeline maupun explore instagram. Banyak yang bilang relationship goals lah, couple goals lah, life goals lah, dan goals lainnya. Saya terus mikir, orang yang bilang goal-goal-an itu kan gak tau gimana kehidupan aslinya, kok bisa-bisanya dia pengen hidup yang kaya gitu?

Jadi menurut saya sih, kayanya kita mesti berhenti membuat standarisasi hidup orang lain ke dalam diri kita.

Pernah suatu saat saya berada di lowest point hidup saya, lalu melihat hidup orang lain di  sosial media yang keliatannya 'happy' dan saya pun membatin, ‘ih kok enak yah, dia. Ih pengen deh kaya gitu. Bla bla bla.’

Tapi saat itu juga, saya langsung tersadarkan, bahwa apa yang saya liat itu belum tentu ‘seenak’ kenyataan. Saya gak tau struggle-nya orang itu, saya gak tau lika-liku hidupnya, saya gak tau apa-apa yang udah orang itu korbankan, dll.’

Sehingga dari segala macem pengalaman dan pemikiran yang njilemet, saya mendapatkan konklusi bahwa standar hidup tiap orang beda-beda, pun dengan standar kebahagiaannya. 

Karena itu saya percaya; kalo setiap orang yang sudah merasa cukup dengan hidupnya, mau keliatan sesempurna apapun kehidupan orang lain, gak akan berpengaruh banyak sama dirinya sendiri. Karena kembali lagi, dia berfokus sama hidupnya sendiri, mengejar pencapaian hidupnya sendiri, dan menikmati setiap lekuk kehidupannya sendiri.

Because every you have different stories!

Yuk, sama-sama berfokus sama diri sendiri, ciptain goals sendiri, tanpa harus mengikuti standar hidup juga standar kebahagiaan orang lain.

Salaam.

See other stories

10 comments

  1. Setuju sekali...
    Sering kali orang yang memposting (terutama kemesraan bersama pasangannya) berbanding terbalik dengan keadaan sebenarnya.
    Begitu sih katanya, eh ga tau ketang :D
    Soalnya sekarang di lini masa saya bersliweran soal politik. Hayatiiii lelah bang bacanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha saya juga lelah sama isyuuuu politik๐Ÿ˜‚

      Delete
  2. Mak jleb, hehe. Soalnya sering secara gak sadar ngiri dengan sliweran timeline yang begitu terlihat bahagia, padahal... mungkin dibaliknya ada banyak perjuangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam,
      Betul banget! Saya pribadi kadang mesti terus diingetin supaya terus bersyukur:")

      Delete
  3. Maasyaa Allah,cerdas. Saya suka dengan tulisan ini. Salam kenal ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam annaz,
      Terima kasih yaaa, salam kenal;)

      Delete
  4. Betul sekali miss chia kharim. Sya setuju. Fokus sama diri sendiri lebih bahagia dan damai hehehe...yang terpenting terus memperbaiki diri dan memantaskan diri untuk masa depan yang lebih baik. Harus yakin bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  5. kadang jadi ngiri ngeliat timeline orang lain yang indah-indah. tulisannya sangant ngena mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam ribka,
      At the lowest point of my life, saya pun kadang begitu. tapi sesaat saya sadar bahwa kayanya lebih enak mensyukuri apa yg saya miliki aja:)

      Delete