My Life's Journal

Problematika Perempuan Lajang di Usia 25-an

9/12/2016 10:40:00 AM

Hasil gambar untuk gambar belumdapet jodoh
Apa yang paling membahagiakan pada moment ulang tahun? Menurut saya, salah satunya adalah saat orang lain dengan secara sadar mengucapkan doa-doa baik untuk kita. Ya siapa tahu dari doa-doa baik itu, ada yang beruntung didengar Tuhan untuk dikabulkan. Pada moment ulang tahun saya ke-25 dua bulan lalu, banyak doa yang berhamburan. Setelah saya telisik, rata-rata doa yang dihaturkan kerabat dan teman-teman selalu dikaitkan dengan urusan jodoh. 

“Semoga cepet dapet jodoh, yah!” sepertinya jadi template doa paling nge-hitz pada hari ulang tahun saya kala itu. Doa-doa itu menyadarkan saya bahwa ternyata salah satu problematika terbesar perempuan lajang di usia 25-an adalah tentang jodoh. 

Menjadi lajang saat mengarungi usia 25 tahun memang sangat riskan. Terlebih perempuan. Mengapa? Karena stereotip yang berkembang di masyarakat cukup telak mendeskriditkan perempuan dalam hal status. Jika terdapat perempuan yang berusia 25 tahun atau lebih dan masih lajang maka lingkungan akan cenderung menuntutnya untuk segera menikah. Menakuti kelak menjadi perawan tua lah, mengkhawatirkan usia yang rentan dan cenderung tidak produktif lagi secara seksual lah, dan pelbagai ketakukan yang ditakuti-takuti lainnya. 

Hal ini mungkin agak sedikit berbeda dengan laki-laki. Jika ada laki-laki lajang berusia 25-an, hal itu masih dianggap wajar. Karena katanya laki-laki lebih lambat matang. Katanya lagi laki-laki yang akan menjadi kepala keluarga sehingga harus bekerja hingga mapan, dan pembenaran-pembenaran lainnya.

Ada banyak alasan yang membuat perempuan berusia 25 tahun atau lebih masih betah melajang. Berdasarkan berbagai curhatan teman dan pengalaman saya sendiri, maka saya akan mencoba mengulik beberapa alasan ‘kenapa gak nikah-nikah’ yang kerap kali menjadi momok bagi perempuan lajang di usia 25-an.


  1. Terlalu Pemilih
    Banyak yang bilang kalo perempuan gak nikah-nikah itu biasanya karena belio terlalu pemilih. Saya jadi teringat nasehat sesepuh-sesepuh saya, “Kamu baru selesai S-2, Sekarang udah dapet kerja. Terus mau yang gimana lagi? Udah jangan milih-milih!” saya pun tertegun cukup lama mendengarnya.

    Duh yah bapak-bapak ibu-ibu, milih-milih jodoh mungkin saja berlaku bagi belio-belio yang ‘laku di pasaran.’ Tapi bagi yang pas-pasan seperti saya misalnya bisa berlaku seperti ini, “Gimana mau milih-milih, ini kagak ada yang bisa dipilih!”
     
    Terlepas dari ada atau tidaknya yang dipilih, memilih pasangan menurut saya memang penting dilakukan. Mungkin permasalahannya ada pada ‘memilih’ dan ‘milih-milih’. Memilih masih dalam tahap wajar. Tapi kalo milih-milih, bisa dianggep kurang ajar?

    2.      Kriteria yang Terlalu Tinggi
    Katanya sih, kriteria yang ketinggian ini menjadi salah satu penyebab susahnya dapet jodoh. Saya pikir setiap orang mempunyai kriteria masing-masing dalam memilih jodoh. Banyak yang mengharapkan jodoh yang sempurna, tapi seperti kita ketahui bahwa kesempurnaan yang hakiki hanya milik Alloh. Dan kesempurnaan di layar tivi hanya milik Bunda Dorce serta Rizky Febian. Sehingga dalam menerapkan kriteria tentang jodoh kita kelak, sepertinya kita kudu mempertimbangkan 3B. Yaitu: Berusaha, Berdoa, dan jangan lupa Bercermin.

    3.      Trauma Masa Lalu
    Trauma masa lalu disebut-sebut sebagai salah satu penyebab perempuan enggan menikah. Padahal yang namanya trauma, engga mandang gender. Misalnya di beberapa kasus, sepasang kekasih yang telah lama menjalin hubungan memutuskan untuk berpisah. Setelah beberapa lama si laki-laki menikah dan si perempuan belum juga mendapatkan penggantinya. Merasa paling mengerti si perempuan, orang-orang terdekat si perempuan pun menyarankan agar si perempuan segera Move on!

    Guys, seorang perempuan memilih untuk tidak pacaran (lagi) setelah putus, bukan berarti belio belum bisa move on. Bisa jadi belio sudah lelah dengan drama percintaan ala abege. Hayati, lelah Bang! Saking lelahnya si Hayati eh si perempuan maksudnya, memutuskan untuk gak mau pacar-pacaran lagi. Mau langsung nikah aja! Sedangkan sekarang si perempuan lagi memperbaiki diri untuk kelak dilamar sama akhi-akhi sholeh idaman ukhti solehah. Bukankah begitu, Mamah Dedeh? insyaAlloh, ada solusinya!

    4.      Terlalu Sibuk Berkarir
    Perputaran zaman membuat perempuan tidak lagi asing dengan pendidikan. Kini banyak perempuan yang menduduki kursi pekerjaan yang sebelumnya hanya diduduki kaum laki-laki. Banyak Perempuan pun yang memperoleh karir cemerlang. Hanya saja biasanya, dibalik itu semua banyak laki-laki yang takut mendekati si perempuan itu. Minder, katanya. 

    Padahal saya yakin niat perempuan untuk mendapat pendidikan tinggi maupun karir yang cemerlang bukan semata-mata untuk menyaingi laki-laki. Perempuan hanya ingin ‘berdaya’. 

    Sehingga wahai laki-laki yang dirahmati Alloh, janganlah kalian merasa minder dan kerdil dengan pencapaian-pencapaian yang diperoleh perempuan. Jika kalian mau membuka mata, hati, dan telinga serta menurunkan ego kalian sedikit, seharusnya kalian merasa beruntung. Karena kalian mendapatkan perempuan dengan tipe pekerja keras dan tau betul apa yang ingin ia capai serta bagaimana cara mencapainya. Dengan tipe seperti itu bukannya bagus untuk dicontoh anak-anak kalian kelak?

    5.      Belum Bertemu Jodoh yang Tepat
    Keempat alasan di atas akan luntur jika memang seorang perempuan belum ditakdirkan untuk bertemu jodoh yang tepat. Emang sih terdengar klise, tapi ini benar adanya. 

    Apa yang membuat kita mau menikah dengan orang yang masih kita anggap asing? (Walaupun kamu udah pacaran bertahun-tahun tetep aja kan dia orang asing yang cuma kamu kenal dalam kurun waktu tertentu) Salah satunya adalah kita percaya bahwa, “Dia adalah orang yang tepat. Saya menoleransi segala kekurangnya sebagaimana dia menoleransi segala kekurangan saya. Dan saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamanya.”

    Nah masalahnya mungkin saja para perempuan lajang di usia 25-an belum menemukan ‘orang yang tepat’ seperti ini. Sesederhana itu, belum dipertemukan Tuhan. When you met the one, you just knew it.

    Untuk itu sebagai perempuan lajang di usia 25 tahun saya ingin menjelaskan bahwa setiap orang memiliki garis hidupnya masing-masing. Plis atuhlah, engga semua orang takdir hidupnya kaya di ftv-ftv siang kesukaan kita dengan kuliah-ketemu jodoh-pacaran-kerja-terus nikah. Banyak juga yang harus mengalami jatuh bangun kehidupan percintaan, misalnya: seringkali menjadi korban php, kerap ditinggal nikah, belum ada yang bisa diseriusin, dll. Nah daripada kamu sibuk nanya para perempuan lajang dengan template pertanyaan “kapan nikah?” mending dibantuin doa. Atau minimal saat kamu nanya mana calonnya? Mbok ya sekalian dibawain calonnya, lumayan kan buat referensi gitu. Iya tho?

See other stories

23 comments

  1. Bener banget kak, adek setuju bangat ama pemaparan di atas..itu curhatan kak? Wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini adek siapa yah bisa nyasar ke blog orang? Hahaha:p itu bukan kak, itu hanya sedikit menuangkan keresahan-keresahan yg menggelanyut di kepala:P

      Delete
    2. Adekkk yang tertukar kak....wkwkwkwk.....cariiin kakak ganteng buat adek dong kak :D ...Hahahah, keresahan adek juga kak...dtgu postingan selanjutnya kak....adek fans blog kakak hlooo....

      Delete
    3. Ini adek siapa yah? Semoga segera ketemu sama kakaknya yah dek engga nyasar2 lagi di blog orang hahaha:p

      Usaha dek usaha, coba cari di kolong meja, mungkin jodohmu ada disitu:p

      Delete
  2. Klo menurutku, perempuan di usia 25 itu masih berada di titik awal pendewasaan diri ya. Sifat curiosity-nya sedang bergerak naik ke titik puncak. Singkat kata, masih mencari jati diri sekaligus mengembangkan diri. Menurutku perempuan umumnya baru bisa settle down dengan ambisinya di usia menjelang kepala 3, sekitar 27, 28, 29 gitu. Itu menurutku adalah usia ideal bagi perempuan untuk menikah.

    Memang sih ada juga kekhawatiran bilamana menikah telat nanti susah memperoleh keturunan karena kinerja organ reproduksinya sudah tidak begitu baik. Tapi itu kan ya kehendak dari Allah toh? Dan lagi bisa membatasi jumlah anak. Daripada nikah muda habis itu beranak banyak. Indonesia kan punya masalah dengan jumlah populasi penduduk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Mawi Wijna,
      Wah kece analisisnya! Kadang emang tingkat kedewasaan, kebutuhan, keinginan, dan terakhir takdir jodoh tiap orang beda-beda sih yah:") kadang sbg perempuan suka bete kalo ditanya mulu soal jodoh, pdhal emang belom takdirnya ketemu #malah curhat :D

      Btw trims yah udh blogwalking:D

      Delete
  3. Aku kok ya pas 25, belom kepikiran "harus" menikah hahaha *gagaro teu ateul. Dan Nikah baru pas 27tahun..sm suami cm 5bulan kenal :p.
    Percayalaah semua akan indah pada waktunya
    Semoga alloh menyegerakan jodoh terbaik chia dan yang merindukan pernikahan yaa..
    Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo teh ien,
      Akupun sebenernya biasanya aja teh, tapi lingkunganku nyuruh segera nikah ahahaa:")

      Wow masyaAlloh cerita ketemu jodohnya,nah aku pengen yg kaya gitu tuh teh. Gak usah lama2 kenal, langsung cus nikah hihihi.

      Aamiin yaAlloh, haturnuhun teh ien. Semoga doa-doa baik berpulang kpd teh ien juga❤

      Delete
  4. Syedih banget dg tempate pertanyaan "kapan nikah?" MEski sudah ada pasangan, tetep aja ada banyak pilihan dg juga alasan knapa blum nikah.
    Semoga bsa dpetin imam yg baik, seiman, dn juga yg trbaik buat mbak nya ya...
    Aminn

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam khoirur rohmah,

      Aamiin allahumma aamiin, wah seneng banget didoain. terima kasih yah dear atas doa baiknya. Semoga doa baik itu juga berpulang ke kamu yah:D

      Terima kasih sudah blog walking;)

      Delete
  5. lahir,mati,rezeki sama jodoh emang ga ada yang tahu huy "

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju banget, Bang! Ini pasti Bang Thoyib-_-

      Delete
  6. Ntar kalo udh nikah, ditanya kapan punya anak, dan begitu seterusnyaaa. Hehhee.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Mbak Alida,

      Klo dipikir2 pertanyaan kaya gitu gak akan ada habisnya yah:")

      Trims mbak sudah blogwl walking:D

      Delete
  7. Ya kalau emang belum ketemu yang cocok, mau gimana lagi? Boro-boro milih yang cocok, yang dipilih aja belum ada. Kalau lagi banyak orang yang nikah muda, bukan berarti kita harus ikut2an kan? >_<

    Curahan hati perempuan yang tahun depan genap 25 tahun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi ternyata perempuan yang sudah genap 25 dan belum genap 25, hampir sama yah curhatannya:")

      Delete
  8. Aku yang udah nikah pun merasa risi kalo denger ada yang nanya 'Kapan nikah?' ke lajang-lajang yang aku kenal :( Aku percaya semua orang punya jalan hidupnya masing-masing, punya timing masing-masing. Masih banyak kok cara buat menunjukkan kepedulian, gak harus pake pertanyaan semacam itu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakaat dengan Synta...akupun ga pernah nanya2 kapan nikah atau "sudah punya anak berapa?" -- karena menurutku termasuk pertanyaan2 yg sensitif.

      Delete
    2. Wah haturnuhun para teteh istri yang sangat amat mengerti keadaan lajang2 di usia matang (seperti aku) hihihi:")

      Setuju, tiap orang punya 'timing'-nya masing2 yaaa:")

      Delete
  9. Telat ya Sist.. Tapi ikut Doain moga2 cpet dapet jodoh yaa: D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lebih baik telat, dari pada gak sama sekali sist😂

      Aamiin yaAlloh, haturnuhun teh nataz❤

      Delete