My Life's Journal

Menapaki Jejak Orang Lain

8/29/2016 12:17:00 PM


Hasil gambar untuk gambar jejak langkah
 sumber gambar: disini

Niat saya untuk kembali merantau sepertinya harus ditunda, setelah ibu meminta saya untuk menetap di rumah.

“Di rumah sepi, temenin ibu.” Katanya.

Alhasil saya pun segera bergegas untuk mencari-cari peluang kerja di Depok, Jakarta, dan sekitarnya. Dan akhirnya saya kembali bergelut dengan Jakarta. 

Sepulang mengajar, saya menemukan sebuah taman yang cukup asri di kawasan Jagakarsa. Saat itu pukul 11.45 WIB dan taman pun tampak masih lengang. Karena ingin segera menulis daily report, maka saya memutuskan untuk mampir ke taman tersebut.

Saya memilih duduk di tengah taman. Sambil menulis daily report, saya mengamati keceriaan seorang anak yang sedang berguling-gulingan di rumput taman. Tidak lama dari itu, seorang penjual kipas anyaman kayu menghampiri saya. Jika di Bandung, kipas ini disebut hihid. Hihid biasanya digunakan untuk mengipas sate.

“2000 aja neng! Buat lebaran, ngipasin sate!” ujar penjual itu menawarkan. 

Penjual itu tampaknya cukup lelah. Saya perkirakan usianya menjelang 60 tahun. Namun raganya tampak masih gagah. 

Sejenak saya tersenyum setelah melihat-lihat hihid yang ditawarkan si penjual. Saya berpikir bahwa sebentar lagi memang idul Adha/lebaran haji dan penjual ini dengan cerdik memanfaatkan moment nyate pada lebaran haji sebagai ladang untuk mengais rejeki.

Sambil menenggak minuman kemasan gelas, penjual ini bercerita bahwa ia telah berjalan berkilo-kilo meter jauhnya. Ia bekerja serabutan. Apapun dilakukan. Kadang menjadi kuli bangunan, kadang menjadi juru parkir, dan kadang menjadi penjual musiman seperti sekarang ini.

“Saya jalan dari Citayam, Neng. Abis ini mau jalan lagi ngelilingin Cilandak. Setiap hari beda-beda tempat.”

Saya salut dengan penjual ini, karena jarak dari Citayam hingga ke Jagakarsa dan berputar-putar sekitar itu bukanlah perkara yang dekat. Jauh banget malah. 

Setelah agak beberapa lama, kami pun berpamitan. Entah mengapa ide gila saya muncul. Saya kepengin merasakan secuil jejak si penjual yang sudah berjalan berkilo-kilo jauhnya. Jadi saya memutuskan untuk jalan kaki dari taman menuju persimpangan angkot. 

Sebenarnya di depan taman ada angkot, tapi harus oper angkot lagi untuk meneruskan perjalanan ke rumah saya. Maka tanpa pikir panjang, jalan kaki sampai ketemu angkot yang saya tuju tanpa oper-operan adalah solusi terbaik saat itu.

Perhitungan saya jarak antara taman itu dengan angkot itu tidak begitu jauh. Tapi perkiraan saya meleset. Ternyata jaraknya jauh banget! Saya yang udah kepalang tanggung jalan kaki, memutuskan untuk tetep jalan sambil itung-itung olahraga di siang bolong. 

Jangan tanya gimana kondisi jalanan saat itu. Panasnya udara Jakarta, banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, ditambah trotoar yang jauh dari aksesibel, sangat amat menambah ketidaknyaman pejalan kaki.

Dengan langkah satu per satu, saya berusaha kembali membangun chemistry dengan lingkungan Jakarta. Saat sedang asyik menekuri jalan, tiba-tiba dari arah belakang ada sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam yang mengagetkan saya. 

Orang di samping supir, menggertak saya dengan berteriak “Woi !” sambil menggebrak dengan sangat keras pintu mobilnya. Dan mobil itu pun berlalu kencang dengan tanpa dosa.

Saya yang digertak seperti itu, langsung menghentikan langkah. Saya kaget luar biasa. Sesaat saya ingin meneriaki orang yang tingkat kewarasannya diragukan itu dengan seisi kebun binatang. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, saya memilih untuk beristighfar. Saya langsung berdoa, karena katanya doa orang yang didzolimi mudah dijabah oleh Alloh.

Sulit memang menahan diri untuk tidak mengumpat kepada orang yang saya ragukan kewarasannya itu. Bayangkan, saya sudah benar berjalan di trotoar sebelah kiri, terus saya masih digituin? Saya mesti jalan dimana lagi? Terbang gitu?

Saat emosi saya sudah mereda sedikit, saya jadi teringat penjual hihid tadi. Saya kini merasakan betul apa yang dirasakan penjual tadi. Peristiwa yang saya alami ini, mungkin hanya sedikit dari berbagai peristiwa yang biasa ia temui di jalanan. 

Jakarta keras, Bung!

Setidaknya, hari itu saya banyak belajar. Pertama, saya paham sebagai pejalan kaki yang notabene lebih lemah daripada pengendara mobil, kecenderungan untuk dirugikan memang lebih besar. Saya yang kaget luar biasa setelah kejadian itu, tidak bisa bertindak apa-apa. Orang yang kewarasannya saya ragukan itu pun dapat nyelonong pergi seenaknya.

Hal itu mengingatkan saya bahwa di dalam hidup entah saat berada di posisi apapun—di atas maupun di bawah—jangan sampai merugikan orang lain. Karena saat kamu berada di posisi lemah dan kamu direndahkan, rasanya tidak enak. Sakit sekali. 

Kedua, dari orang yang kewarasannya diragukan, dia mengajarkan saya bahwa inilah hidup. Kadang tidak peduli seberapa benar kita, tapi pasti ada ‘orang usil’ yang berusaha mengusik dan merugikan hidup kita. Kuncinya memang di diri kita sendiri. Mau ikut-ikutan gak waras atau memaklumi ketidawarasan orang itu sebagai keberagaman umat manusia. Heuheu.-_-

Terima kasih Jakarta, saya siap bergulat kembali!

See other stories

11 comments

  1. Semangat cia.. selamat berpetualang lagi di jakarta.. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi feiraaaa,
      Ayo semangat mengarungi kerasnya Jakarta! 💪

      Delete
  2. Pas baca yg kakek penjual kipas, sedih ih... :(... bayangin capeknya dia menjajakan kipas gitu ya mbak... tapi pas baca bagian yg org gila, jd ikutan sebel dan emosi... tp memang percuma org ga waras gitu diteriakin balik.. ntr kita sama2 ga waras kayak dia :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam mbak fanny,
      Iyah subhanalloh bgt perjuangannya yah mbak:") makanya saya tahan2, kalo nurutin emosi yg ada sama aja gak warasnya hihihi:")

      Delete
  3. dan selalu banyak tantangan untuk meningkatkan aktivitas berjalan kaki (bahkan untuk jarak dekat sekalipun)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju mbak, apalagi di kota2 yg gak ramah buat pejalan kaki:") semangat 1000 langkah sehari! :D

      Delete
  4. Selamat merantau di ibukota mbak :D Ulasannya sangat menarik. Senang sekali dapat berkunjung ke laman web yang satu ini. Ayo kita upgrade ilmu internet marketing, SEO dan berbagai macam optimasi sosial media pelejit omset. Langsung saja kunjungi laman web kami sboplaza.com ya. Ada kelas online nya juga lho. Terimakasih ^_^

    ReplyDelete