My Life's Journal

Bandung dan Cerita yang Hampir Selesai

7/01/2016 01:06:00 PM






Kelak, apa yang akan tersisa dari Bandung?

Setelah melalui hari-hari yang maha berat, alhamdulillah saya telah menyelesaikan sidang tesis tahap I. Dan setelah merampungkan revisi hingga kurus (eh ini yakin?), saya pun mendaftarkan diri untuk sidang tahap II. Beberapa kawan pun telah menyelesaikan pemberkasan sidang tahap I dan tahap II mereka. Alhasil kami pun memutuskan untuk mengambil napas sejenak dengan berjalan-jalan.

Hari itu kami mengunjungi The Lodge Maribaya Lembang dan Puncak Ciumbeulit (Punclut). Pada awalnya kami merencanakan untuk berangkat pukul 10.00 WIB. Namun rencana tinggal rencana, karena satu dan lain hal kami pun berangkat pukul 15.00 WIB. Awalnya saya sempat pesimis, mengingat hari sudah sore. Namun karena kawan-kawan saya butuh piknik—setelah badai tesis menerjang mereka—akhirnya kami memutuskan untuk tetap jalan.

Jarak dari kosan teman saya yang berada di Cilimus ke The Lodge Maribaya Lembang memakan waktu hampir 1 jam. Letak The Lodge Maribaya Lembang tidak begitu jauh dari Gerbang Wisata Maribaya dan hanya berjarak beberapa meter dari Gapura ‘Selamat Datang Kabupaten Lembang Barat’. Harga tiketnya pun cukup terjangkau yaitu RP. 15.000,-.




Menurut saya, The Lodge Maribaya Lembang merupakan tempat yang cukup instagram-able. Disana banyak spot-spot menarik untuk sekedar foto-foto cantik. Salah satu primadonanya adalah Sky-Tree. Sky-Tree merupakan papan yang dibuat di batang pohon. Sky-Tree menghadap langsung ke arah tebing hijau dan untuk menjangkaunya kita harus menaiki beberapa anak tangga. Untuk dapat berfoto disini kita dikenakan tarif Rp. 10.000,-.

Sekilas Sky-Tree di The Lodge Lembang ini mirip seperti Kalibiru di Jogjakarta. Cuma bedanya ini tidak setinggi di Kalibiru. Jadi tempat ini cocok banget buat kamu yang belum sempat ngerasain foto di Kalibiru, yah itung-itung buat percobaan lah yah hihihi.


Sky-Tree nya di belakang yaaa

Setelah foto-foto di The Lodge Maribaya Lembang, kami memutuskan untuk buka puasa di Puncak Ciumbeulit (Punclut). Kami pun memilih untuk berbuka puasa di Saung Buhun; salah satu tempat rekomendasi kawan saya. Salah satu kawan saya berkata, “engga sah ke Punclut kalo engga nyobain tutut disini!”

Saya telah beberapa kali mengunjungi Punclut, tapi belum pernah mencoba makan tutut. Awalnya saya tidak tertarik, tapi melihat animo luar biasa teman saya dalam memakan tutut, akhirnya saya pun penasaran untuk mencobanya. Rasanya? Ternyata enak! Ditambah kuahnya yang gurih dan pedas, tutut di Saung Buhun ini pun layak dicoba. Cukup membayar Rp. 10.000/porsi tutut hangat sudah siap disantap. 


Tutut-nya juaraaaa!

Di tengah menikmati makanan yang enak, selalu saja diselingi tawa dan canda. Entah percakapan-percakapan tentang rencana hidup di masa depan; seperti tentang pilihan karir dan jodoh ataupun membahas hal-hal remeh yang sering membuat perut tergelitik. 

Bagi saya pribadi saat-saat seperti itu, merupakan salah satu moment yang kelak akan saya rindukan. Berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan, membicarakan masa depan, dan tak sabar melihat mereka kelak di masa depan yang akan kami tempuh sendiri-sendiri.

Jadi, kelak apa yang tersisa dari Bandung?

Kini saya dapat menjawabnya dengan pasti, yaitu: Beragam Cerita.

2 tahun rasanya begitu cepat, untuk beragam cerita yang telah saya geluti di Kota Bandung. Dan kini, cerita-cerita itupun hampir selesai. Cerita-cerita itu nantinya akan saya bukukan pada ingatan-ingatan yang mungkin saja saling bedesak-desakan di otak saya. Karena kelak, apa apun yang kita lakukan hari ini akan menjadi kenangan. Sama seperti Bandung, yang akan menjadi kenangan pada perjalanan hidup saya selanjutnya. 

Halo Bandung, untuk waktu yang tersisa, Semoga kamu memberikan kenangan yang tidak mudah untuk saya lupakan, ya!

See other stories

2 comments

  1. Asiknyo jalan jalan... Kayaknya pantas dikunjungi itu tempat-tempat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muhun kang phadli, lumayan rekomendid da buat melepas penat :D

      Delete