My Life's Journal

Surat untuk Ibu

6/12/2016 04:25:00 PM




Dari jarak beratus kilometer, aku menulis surat ini untukmu; wanita yang paling kucintai.

Berbicara tentang jarak, sudah sejak lama sepertinya ia menjadi pil pahit di kehidupan kita.

Kepergian ayah dengan nyata mengajarkan kita tentang arti jarak itu sendiri. Membuat ibu menjanda dan aku menjadi yatim. Tak ada lagi senyuman meneduhkan dari laki-laki sederhana itu, tidak ada lagi kelakar tawa yang sering diciptakannya dan tidak ada lagi sosok penenang ibu di kala hidup tak lagi bersahabat. 

Ibu, jika jarak memiliki sahabat, aku berkeyakinan ia bersahabat dengan air mata. Beratus kilometer jauh darimu, aku teramat sering mengutuknya. Mengapa jarak ada dengan turut mengundang air mata?

“Jarak ada untuk mendewasakan kita, Nak!” begitulah kira-kira jawabmu menenangkanku.

Apalah daya diri saat mengkhawatirkan keadaanmu, namun kau selalu menjawab bahwa semua baik-baik saja. Apalah dayaku, saat kau membutuhkan teman untuk berbagi cerita namun aku tak berada di sampingmu.

Ibu, aku tahu kepedihan itu ada. Aku tahu kesedihan itu datang menyapa. Apa yang bisa kulakukan saat ribuan kaca menghujam hatimu, Bu? Ada beribu luka yang tak kunjung sembuh. Samar-samar aku melihatnya dari matamu dan kau dengan tegar memilih untuk menghadapinya seorang sendiri.

Ibu, jika ada pemilihan orang yang paling pandai bersandiwara, bisa aku pastikan kau memenangkannya. Seumur hidupmu kau harus bersandiwara untuk kuat dan tabah. Tak pernah merasa lemah apalagi di depan anak-anakmu.

Tidakkah ada celah untuk menangis, Bu?

Satu hal yang sama-sama kita ketahui bahwa manusia diciptakan Tuhan memiliki batas dan dari batas itu aku melihat air mata ibu bagai kristal-kristal es yang membeku pada musim kemarau.

Ibu, izinkan aku untuk menjadi lekat pada dirimu. Kau bisa menangis sesukamu dan kau bisa mencurahkan segala kegundahanmu terhadap hidup pada diriku. Aku kini telah bertumbuh dewasa dan sedikit banyak hidup telah menempaku dengan banyak hal. Termasuk dengan kerikil tajam, bebatuan pecah, maupun onak duri.

Ibu, bolehkan aku meminta maaf ? Untuk segala kehilafan dan kealpaan diriku. Jika lalu aku sibuk berlari seorang diri untuk mengejar segala asaku. Maka kini aku akan memperlambat langkahku dan merangkul ibu untuk serta bersamaku. 

Aku tahu permintaan maaf saja tak akan pernah mengubah keadaan. Namun setidaknya dengan permohonan maaf ini, aku ingin menghancurkan tembok yang telah lama kubangun. Tembok yang membuat aku tak pernah melihat ibu secara lekat. 

Ibu maafkan aku, atas segala keegoisan diri yang selalu membuat ibu susah. Bahkan rasanya sedikit sekali aku membiarkan ibu mencecap kebahagian dari apa yang kuperbuat.

Aku tahu ucapan terima kasih saja tak pernah membalas semua jasa, tapi ijinkan aku untuk mengucapkan ini, Bu.

Terima kasih untuk segala pengorbanan yang telah kau lakukan untukku.

Terima kasih untuk segala doa-doa tulus, sehingga Tuhan selalu melindungi dan menjagaku.

Dan terima kasih untuk segala maaf yang tak terhingga dari bermilyar kesalahanku padamu.

Ibu, jika sebuah ikatan darah antara ibu dan anak adalah sebuah takdir, maka aku sangat bersyukur pada Tuhan karena Ia telah memilihkan ibu untukku. Tiada anugerah terbaik dalam hidupku selain dapat mencecap selama 9 bulan didalam rahimmu. Dan tiada hal yang paling indah selain belajar tentang hidup bersamamu, Bu.

Ibu, semoga engkau selalu tabah pada setiap penantian untuk menunggu aku pulang. Tiada ada rumah yang akan selalu aku rindukan untuk berpulang setelah melangkah beratus kilo jauhnya, selain engkau, Ibu.


Anakmu,
Kota Kembang, 12 Juni 2016

See other stories

10 comments

  1. Kak, sedih banget. Aku jadi kangen mama. :-(

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Salaam mbak tira,
      Terima kasih sudah blog walking ya:")

      Delete
  3. jarak yang mendewasakan kita, <<< suka kata-katanya :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam sari,
      Trims yaa sdh blog walking :')

      Delete
  4. hatur nuhun geulis.... sing bagja sing ageung milik na ya nak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaAlloh, haturnuhun ibuuuu sayang. Rindu!* :")

      *bu, kok pake akun ade? Hihihi

      Delete