My Life's Journal

(Bukan Hanya) Belajar Membaca

6/06/2016 12:08:00 PM




Seekor kupu-kupu bersayap perak keemasan terbang mengelilingi pohon-pohon bunga berdahan rendah yang berjajar rapih di depan kelas. Di beranda kelas, sekumpulan anak perempuan bernyanyi kidung ceria sambil berlompat-lompat. Sedangkan sekumpulan anak laki-laki bekejar-kejaran dari kelas ke kelas, berteriak-teriak, dan saling menarik baju satu sama lain sambil tertawa-tawa. Keringat menerabas ke luar baju mereka. Basah. Riuh.

Dua anak laki-laki menggamit telapak tangan saya, seraya berkata, “bu belajarnya abis istirahat aja, yah!”

Hari itu merupakan hari terakhir. Sudah jauh hari saya memberitahu mereka jika hari itu merupakan hari terakhir kami belajar bersama. Setelah selesai belajar membaca, anak laki-laki yang perawakannya lebih besar bertanya kepada saya, “ibu, besok kita gak belajar lagi?” 

“iya, engga.”

“yah, kenapa bu?” anak laki-laki yang lebih kecil menimpali.

“karena penelitian ibu sudah selesai, abis ini ibu mesti nulis laporan. Mungkin nanti ibu kesini lagi, terus kita bisa belajar lagi.” jawab saya sekenanya.

“kapan?”

“mungkin bulan juni.”

“Yahhh!” sergap mereka serempak menelan kekecewaan.

Bagi saya, salah satu hal yang menyebalkan dari pertemuan adalah ia selalu bersaudara dengan perpisahan. Saya harus berpisah dengan dua anak yang beberapa minggu kebelakang selalu saya pantau kondisinya. Terutama kondisi membaca mereka. Mereka merupakan subyek riset saya pada ranah membaca permulaan. 

Saya benci harus mengucapkan selamat tinggal pada suatu keadaan yang telah membuat saya nyaman. Saya nyaman setiap seminggu 3-4 kali rutin mengunjungi mereka di sekolah untuk membimbing mereka belajar membaca. Namun setelah itu, selalu ada hal ‘terakhir’ setelah melewati hal ‘pertama’. Seperti saat itu, hari terakhir kami belajar bersama. 

Di akhir percakapan saya meminta mereka menceritakan cita-cita mereka,

Si anak yang lebih besar berujar, “ saya mau jadi tentara, karena gak perlu baca banyak.”

Si anak yang lebih kecil berujar, “saya juga mau jadi pemain bola, karena saya juga gak suka baca.”

Saya tergelitik dengan pernyataan mereka. Ya walaupun riset saya telah selesai, dan terbukti kemampuan membaca permulaan mereka berkembang jauh lebih baik dibandingkan sebelum saya berikan intervensi membaca, namun nyatanya membaca masih menjadi momok menyebalkan dalam hidup mereka.

Setelah itu kami bercakap-cakap. Hanya kami bertiga. Bercerita banyak hal. Saya sedang tidak ingin memberikan nasehat berupa petuah bijak khas orang dewasa. Saya hanya ingin banyak mendengarkan mereka. Mendengarkan apa yang mereka rasakan. Mendengarkan segala keresahan-keresahan hidup dalam perspektif anak-anak laki-laki berusia 9 tahun. Hanya itu.

Kami tertawa bersama-sama, mendengar cerita si anak laki-laki yang lebih besar saat tersesat di sebuah pasar malam. Kala itu, si anak laki-laki begitu takjub dengan permainan komidi putar. Dia pun memperhatikannya lamat-lamat. Hingga dia tersadar bahwa ayahnya sudah tidak ada di sisinya. Frustasi mencari ayahnya yang tidak ketemu, akhirnya dia mencari cara agar segera bertemu ayahnya. 

Dia mendapatkan sebuah ide agar segera bertemu dengan ayahnya. Akhirnya ia memutuskan untuk membuat kegaduhan dengan menangis sekencang-kencangnya. Dalam hitungan detik orang-orang pun telah bergumul di depannya. Begitupun dengan ayahnya yang langsung menemukannya. Sialnya, anak laki-laki itu malah kena semprot marah sang ayah sepulang dari pasar malam. Katanya lagi, “sanes dapet gulali, malah kena omel ku bapa!”* Membayangkan ekspresi memelas anak laki-laki itu, kami hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.

Tak hanya gelak tawa, kami pun berbagi kesedihan. Si anak laki-laki yang lebih kecil bercerita jika ibunya telah kembali ke Batam untuk bekerja. Alhasil dia harus tinggal di rumah hanya bersama nenek dan kakak-kakaknya. Beberapa waktu lalu ia dan keluarganya sempat mengantar sang ibu ke bandara. Ada raut kehilangan mendalam di wajahnya. Seakan ia ingin berujar, ‘ibu, kapan kembali pulang?’

Satu hal yang pasti, bahwa saya mendapatkan banyak hal dari riset yang saya lakukan berbulan-bulan kebelakang. Bukan hanya sebuah data tentang analisis membaca permulaan siswa dengan kesulitan membaca di salah satu sekolah dasar di Kota Bandung. Tapi lebih dari itu. Saya kini menjadi lebih kaya. Dari pengalaman-pengalaman hidup anak-anak ini, dari celoteh-celoteh polos mereka, dari gurauan-gurauan khas anak-anak, dan dari kesedihan yang tidak dapat mereka tutupi. Mereka memang tak pandai bersandiwara. Saya membimbing mereka belajar membaca, tapi mereka memberikan saya gambaran lain tentang hidup. Terima kasih, Nak!


Untuk kedua anakku, semoga kelak kalian memahami, bahwa hidup tidak sesederhana saat kalian belajar membaca. Seperti saat kalian mengujarkan kata yang salah, ibu akan memberitahu. Atau saat kalian mengujarkan kata yang benar, ibu akan memberikan reward. Hidup tidak sesederhana itu, Nak.

See other stories

4 comments

  1. subbahanallahh..
    ceritanya sangat bagus dan menginspirasi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam robby,
      Terima kasih sudah blog walking:)

      Delete
  2. saya mengasuh anak-anak di komunitas aku punya, banyak anak yang gak tertarik membaca. aku jadi berusaha agar mereka suka membaca, dan itu memang sulit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam mbak tira,
      Membaca memang masih menjadi momok menakutkan bagi sebagian anak, terutama anak2 dengan kesulitan membaca. Semoga selalu lancar yah mbak kegiatannya :)

      Delete