Contemplation

Soliloquy

5/30/2016 04:35:00 PM



 foto: Koleksi Pribadi

Saya terpengkur cukup lama memandangi layar notebook. Sebentar menulis, lalu dihapus lagi. Begitu seterusnya. Hingga rasanya tidak ada topik menarik yang saya dapat ceritakan di blog ini. Bukan tidak ada. Tapi tidak bisa.

Saat saya menilik kembali postingan terakhir yang diunggah di blog ini, ternyata cukup lama juga saya tidak menulis. Mungkin otak saya sudah beku atau saya mulai kehilangan kemampuan dalam menulis.  Sebetulnya ide-ide itu sering kali muncul. Semisal saat saya sedang membaca jurnal ilmiah, sedang di perpustakaan untuk menggarap tesis, sedang di sekolah untuk penelitian riset, atau saat memperhatikan sepasang muda-mudi yang sedang bertengkar di depan gerbang kampus. Ide-ide itu tumpah ruah. Tapi anehnya saat saya menghadapi layar notebook, ide-ide yang sedianya berhamburan menjadi kabur dan hilang. Mungkin ini yang sering disebut writer’s block? Entahlah, saya juga tidak yakin apa saya benar-benar seorang penulis.

Dibanding menulis,  belakangan saya lebih sering bertanya kepada diri sendiri. Membuat percakapan intim antara saya dan diri saya sendiri. Tentang apapun. Pertanyaan-pertanyaan itu sering berseliweran di kepala saya hingga terkadang saya sering menasehati diri untuk tidak terlalu kritis pada diri sendiri. 

Setelah ini kamu mau apa?

Saat ini penyelesaian tesis memang menjadi prioritas. Cukup melelahkan memang prosesnya.  Tidak ada pilihan lain, selain menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai, kan? Tapi jika boleh berandai-andai, jika urusan akademikmu selesai nanti, kamu apa lagi? Beberapa teman tertarik untuk menjajal menjadi dosen, beberapa tetap memilih menjadi guru karena mungkin selain sudah memiliki nuptk, mereka juga telah mendapatkan pekerjaan tetap. Beberapa lagi memilih melanjutkan kembali sekolah baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Sedangkan kamu mau apa lagi?

Masih bermimpi untuk tinggal di kota impianmu?

Saat ini saya mulai mengemasi kenangan saya dengan Bandung. Karena dimungkinkan beberapa bulan ke depan saya akan meninggalkan Bandung. Saya mulai mencari-cari kesempatan bekerja di berbagai kota selain Jakarta. Saya ingin berjarak dengan Jakarta dan mencari tempat tinggal yang saya anggap layak untuk dapat membesarkan anak serta merawat keluarga saya kelak. Tapi setelah saya merancang mimpi demikian, saya membaca pesan whatsapp dari ibu saya, “Semangat ya Teh, cepet lulus! Biar kita bisa kumpul lagi di rumah.”

Tentang jodoh, bagaimana?

Untuk pertanyaan ini, saya sudah pada tahap berserah. Berserah disini bukan pasrah. Tapi saya sudah lelah dengan drama-percintaan-abg-yang-sering-saya-lihat-dimana-mana. Jadi Tuhan, saya mohon kirimkan cinta & jodoh yang bisa mendewasakan saya, yah.

Apa kabar impianmu?

Saya kembali menekuri tiap goals hidup yang terpampang di dinding kamar. Saya bukan orang yang ambisius, tapi ingin hidup yang memiliki arah. Mimpi-mimpi itu saya ciptakan atas ego saya sendiri. Tanpa intervensi pihak manapun.

Jika kelak kamu tidak sendiri lagi, impian itu bukan lagi milikmu sendiri, kan? Kamu harus berbagi dengan dia. Atau setidaknya kamu harus menoleransi dengan banyak mengubur mimpi-mimpimu demi mimpi-mimpi bersama. 

Baiklah, kalo itu tidak jadi soal. 

Kepan terakhir kali kamu menangis?

Beberapa minggu yang lalu.

Kenapa ?

Karena dosen pembimbing meminta saya untuk mengulangi beberapa bagian riset di lapangan. Tapi itu sudah terlewati, ternyata bukan perkara besar.

Kamu merindukan dia?

Sedikit.

Kenapa tidak menghubunginya?

Tidak mau.

Kenapa? Kamu gengsi?

Tidak, ada sedikit kekhawatiran. Saya hanya tidak mau terjerumus pada cinta yang dangkal dan sempit.

Tau dari mana kamu kalau itu dangkal & sempit?

Seperti yang sudah-sudah.

Tapi kamu kemarin malam memimpikannya, kan?

Kamu masih percaya mimpi? Wahai diri, berhentilah bertanya. Sedari pagi kamu sendu, dan sendu sepertinya lelah menemanimu. Jadi tidurlah, tanpa banyak bertanya dan lepaskan sendumu itu.

Baiklah, kepala batu! [*]

See other stories

0 comments