Rumah Hati

Sebuah Awalan

3/11/2016 10:07:00 AM






Semua berawal saat aku melakukan observasi di sebuah SD untuk keperluan riset tesisku. Kala itu guru di kelas tersebut berhalangan hadir, jadilah aku diminta untuk menghandle pembelajaran di kelas.  Padahal niat awalku hanyalah melakukan observasi kelas bukan untuk mengajar, sehingga aku tidak memiliki persiapan apapun. 

Saat itu kelas berisikan kurang lebih 15 anak dengan ukuran kelas yang tidak lebih dari 3x3m saja. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengajar bahasa inggris (ya walaupun kemampuan bahasa inggrisku masih jauh dari layak, tapi kupikir untuk ukuran sekolah dasar masih bisa aku kuasai ahaha).

Kala itu, aku mengajarkan tentang materi; perkenalan diri, cita-cita, dan mengenal benda-benda di sekeliling dengan bahasa inggris. Terlebih dahulu aku mencontohkan kepada anak-anak cara memperkenalkan diri menggunakan bahasa inggris. Selanjutnya aku meminta tiap anak maju ke depan kelas untuk memperkenalkan diri mereka dengan bahasa inggris. Setelah itu, aku banyak menyelingi pembelajaran dengan quiz dan games agar anak-anak tidak bosan. Kupikir reinforcement pada pembelajaran kali itu juga penting untuk dilakukan, baik reward maupun punishment

Ada banyak reaksi yang kudapatkan saat meminta anak-anak untuk langsung berbicara dengan bahasa inggris. Ada yang malu-malu, grogi, bahkan takut. Hanya sedikit yang memiliki keberanian dan tak takut salah. Namun aku melihat bahwa keseluruhan anak-anak ingin belajar. Aku bahagia, karena walaupun terbersit keraguan di benak mereka namun mereka tidak berhenti mencoba.

Tujuanku dalam pembelajaran bahasa inggris kala itu lebih menekankan supaya mereka mau bereksplorasi dengan bahasa asing. Pembelajaran kali ini bukan untuk membentuk mereka memiliki kemampuan bahasa inggris yang fluent. Tapi terlebih dahulu aku ingin menumbuhkan rasa percaya diri di dalam diri mereka bahwa jangan pernah malu dan takut salah saat berbahasa asing.

Menurut perspektifku pembelajaran berlangsung cukup efektif. Anak-anak yang awalnya malu-malu dan takut berbicara di depan kelas menggunakan bahasa inggris, perlahan-lahan mau mencobanya walaupun dengan beberapa kesalahan. Tapi itu tak jadi soal, karena aku ingin mereka semua mencoba. 

Ada beberapa hal yang aku cermati dari pembelajaran di kelas kala itu. Bahwa menumbuhkan kepercayaan diri di tiap anak memang diperlukan. Saat kita memberikan kepercayaan kepada mereka dan menyakinkan mereka bahwa ‘salah itu tidak apa’, maka kita seperti menumbuhkan pelita di dalam diri mereka. Mereka menjadi ingin mencoba dan tak takut lagi. Mengapa harus takut berbahasa asing? prinsipnya sederhana, tidak jadi soal kita melakukan kesalahan saat berbahasa asing, toh memang itu bukan mother tongue kita. Yang paling penting tidak berhenti belajar.

Di akhir pembelajaran, aku melakukan evaluasi pembelajaran. Aku menginginkan mereka mengevaluasi kinerjaku dengan meminta setiap anak berkomentar tentang pembelajaran baru saja dilakukan. Mereka pun berebut untuk berkomentar. Sebagian  berkomentar bahwa pembelajaran yang dilakukan menyenangkan karena tidak tergantung dengan buku dan diselingi dengan berbagai fun games. Beberapa lagi  malah berkomentar, “teteh, teteh besok ngajar lagi disini yah teh.” Aku hanya terkekeh mendengar celotehan mereka.

Selang beberapa hari, aku melakukan observasi kembali ke SD tersebut. Saat aku bertemu  kembali dengan anak-anak dari kelas itu, aku diminta untuk kembali mengajar disana oleh mereka. Aku bilang tidak bisa, karena aku hanyalah guru pengganti saat itu. Setelahnya ada seorang anak yang berujar “Teteh mau belajar lagi sama teteh. Mau les teh.” Mendengar kata-kata ‘les’, akupun langsung tercenung. 

Aha! Pikirku, ini bisa menjadi pemasukan tambahan untuk bekal riset tesisku yang memakan biaya cukup banyak. Aku langsung menyetujui hal tersebut dan kami pun langsung janjian untuk bertemu pada sore harinya di taman kampusku. Sore harinya, 6 orang anak datang untuk belajar. Aku sempat tak percaya, kupikir anak-anak itu hanya bercanda. Ternyata mereka serius untu belajar. 

Dan hari itu merupakan kali pertama pembelajaran dilakukan di rumah hati. Aku menyebutnya dengan rumah hati, karena rumah akan selalu meminta hati kita untuk tetap tinggal.

Semua bermula dari sini, dari langkah-langkah kecil kami di rumah hati ini. insyaAllah, nanti akan kuceritakan tentang rumah hati pada post-postku selanjutnya. Tentang anak-anak cahaya dan segala keajaibannya.
Salaam,

See other stories

0 comments