Rumah Hati

Rumah Hati

3/12/2016 09:36:00 AM



Dengan segala apa yang terjadi di hidup kita, Tuhan selalu memiliki rencana.

Termasuk pertemuanku dengan anak-anak ini. Awalnya aku hanya sekedar iseng untuk memberikan les tambahan kepada mereka. Awalnya aku ingin menambah pemasukanku untuk biaya riset tesis. Awalnya aku ingin mencari celah dari kesibukanku yang kerap kali membuat stress dan awalnya aku hanya ingin melampiaskan kerinduanku untuk mengajar.

Namun ternyata segala niat awal itu luluh ketika aku meminta mereka menceritakan diri mereka masing-masing pada pembelajaran pertama kala itu. 6 anak hadir untuk belajar dan tema kami kala itu adalah keluarga. Satu per satu anak, kuminta untuk bercerita tentang keluarganya. 

Anak-anak ini menceritakan bagaimana kondisi keluarga mereka, tinggal dimana, pekerjaan orang tua mereka apa, dll. Aku baru menyadari bahwa rata-rata dari anak-anak ini berasal dari anak-anak dengan low-cost family. Aku pun berpikir ulang, jikalau mereka mampu membayar uang les, mengapa mereka tidak ikut saja pada lembaga-lembaga les yang lebih bonafit? Tentunya karena terlalu mahal. Aku merenung, bagaimana mungkin aku dapat mengambil keuntungan dari mereka yang hidupnya pas-pasan?

Beberapa anak tersedu-sedan saat menceritakan tentang keluarga mereka. Sebut saja dia A. aku melihat kerinduan sosok ayah dari matanya. Perasaannya sangat halus. Saat melihat A, aku seperti bercermin. Ya, aku juga merindukan ayahku. Namun bedanya, aku sempat diberikan waktu selama 23 tahun oleh Tuhan untuk mencecap kasih sayang seorang ayah. Sedangkan A, di usianya yang baru berumur 9 tahun dia harus kehilangan sosok ayah.

Adalagi B yang tak kuasa menahan haru saat menceritakan adiknya yang telah tiada. B betul-betul menyayangi adiknya. Ia menangis hingga sesegukkan kala mengingat adiknya. Aku melihat air matanya, tulus. Sedangkan C dengan nada mantap menceritakan pekerjaan ayahnya sebagai tukang jajanan anak. Tidak ada raut muka menyesal ataupun malu. Dia bangga pada ayahnya. Bangga sekali.

Ah, anak-anak ini.

Antusiasme mereka dalam belajar sangat tinggi. Mereka sangat bersemangat. Walaupun sering kali berceloteh tanpa henti khas anak-anak. Dari mata-mata mereka aku melihat cahaya yang menyala-nyala. Anak-anak yang tak pernah gentar dengan apapun keadaan mereka, dengan segala keterbatasan mereka. Mimpi-mimpi mereka bagaikan pelecut untuk terus bersemangat dalam belajar.

Lalu aku kembali bertanya ke dalam diriku sendiri, pantaskah aku masih mengambil keuntungan dari mereka?

Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk menggratiskan les itu. Masalah biaya tesisku yang membengkak, biarkan Tuhan bekerja dengan caraNya. Aku selalu teringat perkataan salah seorang sahabatku, “jika kita menolong sesama, Tuhan pasti akan menolong kita.”

Kunamai ini dengan Rumah Hati.  Entah mengapa aku hanya merasa nyaman saat mendengar nama itu. Kini pembelajaran kami telah berlangsung sekitar 2 bulan, dengan jumlah keseluruhan anak didik mencapai 9 anak. Tempat pembelajaran kami masih berpindah-pindah di sekitar kampusku. Kadang di taman, kadang di pelataran mesjid, dll.

Kamu percaya dengan teori memberi dan menerima? 

Aku telah menerima berbagai kebaikan dan kesempatan yang diberikan Tuhan di dalam hidupku. Kesempatan untuk belajar, kesempatan untuk menuntut ilmu, dan kesempatan untuk melihat dunia melalui berbagai macam perspektif orang lain. Untuk itu, mungkin ini adalah salah satu jalan untukku memberikan apa yang aku bisa. Apa yang aku mampu.

Belum hal-hal yang bermakna besar. Belum sama sekali.

Ini hanyalah sebuah langkah kecil, tetapi semoga langkah-langkah kecil ini dapat menuntunku pada jalan-jalan terang dengan pendaran cahaya. Bersama kalian anak-anak bercahaya, di Rumah Hati.


dear kiddos, apapun yang terjadi nanti tetaplah percaya pada mimpi-mimpimu. Karena mimpi-mimpilah yang terus menghidupkan orang-orang seperti kita. With love, teteh chia.


See other stories

2 comments

  1. Rumah hati.. Ataupun rumah rindu.. Semoga mereka selalu diberi kebahagiaan yah.. Hibur mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam dian,
      Aamiin terima kasih atas doa baiknya :)

      Delete