My Life's Journal

Pengingat Kebahagiaan

3/31/2016 08:03:00 PM





Setiap bulannya, secara khusus saya memang mengalokasikan dana untuk membeli buku. Namun bulan-bulan terakhir ini kondisi keuangan saya sedang sangat tidak bersahabat. Padahal banyak buku yang ingin segera saya miliki.

Tapi sepertinya semesta sedang berbaik hati. Saya dipertemukan dengan seorang kawan yang memiliki buku-buku incaran. Tanpa rasa malu dan sedikit tak tahu diri, saya merampok meminjam beberapa buku kawan saya tersebut. Dan dia dengan berbaik hati mau meminjamkannya. Semesta, terima kasih atas konspirasinya!

Dari beberapa buku yang saya pinjam, buku pertama yang saya baca adalah ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’ karya Puthut EA. Konon ini merupakan buku pertama Puthut yang berbentuk novel, setelah sebelumnya ia memang dikenal sebagai penulis dengan spesialis cerita pendek.

Saya tidak akan menceritakan tentang review novel tersebut, namun ada salah satu bagian dari novel tersebut yang entah mengapa membuat saya tertegun saat membacanya. Saya tercenung cukup lama. Mendalami baris demi baris cerita yang ditulis Puthut. Pada bagian itu, Puthut menjelaskan bahwa kenangan dan kesedihan itu bagai dua saudara yang dia tidak tahu sampai detik ini, yang manakah lebih tua, dan manakah yang lebih muda.

Artinya, kenangan dan kesedihan seperti ditakdirkan memiliki hubungan yang begitu lekat. Lantas bagaimana dengan kebahagiaan?

Awalnya saya berpikir bahwa kenangan juga berkaitan erat dengan kebahagiaan. Toh, kita dapat berbahagia saat mengenang hal-hal yang bersifat suka cita, kan? Meletupkan segala rasa bahagia yang membuncah di dalam dada dan terkadang memohon Tuhan untuk mengembalikan kita pada masa itu lagi.

Namun ada satu hal yang luput dari perkiraan saya. Bahwa ternyata beberapa kebahagiaan perlu diingatkan, sedangkan kesedihan tak memerlukan pengingat apapun. Namun saat kesedihan itu hadir, ia dapat memporak-porandakan kehidupan seseorang.

Mengapa seseorang perlu diingatkan untuk berbahagia dibanding harus melupakan kesedihannya?

Karena ternyata kesedihan memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap hidup kita. Seperti kita yang lebih sering mengabadikan berbagai momen bahagia dengan memotretnya. Lalu menyimpannya di dalam handphone atau sekedar dibagikan di media sosial. Seperti disaat ulang tahun, saat wisuda, saat menikah, saat bersama orang-orang yang kita kasihi ataupun kita cintai.

Sedangkan jarang sekali kita jumpai orang-orang mengabadikan momen-momen yang berbalut kesedihan. Seperti kematian, perceraian, kecelakaan, dll. Kalaupun ada mungkin hanya beberapa.

Sehingga saya pada suatu kesimpulan bahwa kesedihan memiliki efek luar biasa pada hidup kita. Tidak perlu diingatkan, ia datang bagaikan perampok yang dapat menghanguskan segala kenangan kita akan kebahagiaan. Saat kesedihan datang, segalanya terasa empedu. Bahkan kita sering kali lupa akan rasa bahagia-bahagia yang telah lama kita cecap.

Sedangkan kebahagiaan? Ia bagaikan raja kecil yang harus selalu dilayani, dihadirkan, dan diciptakan. Sekali lagi kita harus diingatkan tentang bahagia. Untuk menjadi bahagia. Dan terus berbahagia. 

Jarang sekali novel yang saya baca hingga dua kali untuk menandainya. Namun novel ini adalah sebuah pengecualian.



P.S: Untuk kamu, semoga Tuhan telah menanam di dalam tubuhmu sebuah alarm otomatis pengingat kebahagiaan. Agar saat aku lupa mengingatkanmu, itu tak berdampak besar. Karena kamu akan tetap berbahagia.

See other stories

2 comments

  1. ah, baru tahu nih ilmunya. sepertinya memang seperti nila ua kesedihan itu. karena nila setitik rusak kebahagiaan sebelanga hehehe ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam mbak yayu,
      Kira2 memang bgtu yg dpt dr pesan novel tersebut, bahwa ternyata kebahagiaan butuh diingatkan, berkebalikan dgn kesedihan:')
      Terima kasih sudah blog walking, mbak :D

      Delete