Contemplation

Bianglala Kehidupan; Berjumpa Kembali dengan Kegagalan

2/03/2016 12:27:00 AM



Koleksi Pribadi: I-City Shah Alam, Malaysia


“Jika hidup diibaratkan dengan menaiki bianglala, maka seharusnya tak pernah ada rasa bahagia meletup-letup maupun sedih yang mendarah-darah. Karena polanya selalu sama, terkadang di atas dan terkadang di bawah. Namun pada kenyataannya, hidup tak sesederhana menaiki bianglala. Karena manusia selalu memerlukan waktu untuk mendewasa.”


Berapakah harga sebuah kegagalan ?

Seseorang pernah berkata, bahwa selagi muda kita memiliki banyak jatah gagal di dalam hidup. Tugas kita hanya menghabiskan jatah gagal itu hingga akhirnya kita berproses dan belajar dari segala kegagalan tersebut. Namun adakah orang yang tak kecewa saat berjumpa dengan kegagalan?

Saat menulis ini, perasaan saya sedang digandrungi kekecewaan yang cukup besar. Saya dinyatakan tidak lulus seleksi administrasi dari salah satu instansi pemerintah yang menyelenggarakan program beasiswa tesis. Sejatinya, beasiswa tersebut sudah lama saya idam-idamkan. Mengingat dana yang diperlukan untuk riset tesis saya tidaklah kecil, bahkan bisa dibilang cukup besar jika dibandingkan dengan biaya sehari-hari saya.

Saya kecewa. Lebih tepatnya kecewa pada diri saya sendiri. Bagaimana bisa saya gagal pada tahap awal penyeleksian beasiswa tersebut. Bahkan disaat teman-teman saya dinyatakan lulus seleksi berkas dan lolos ke tahap berikutnya, saya dinyatakan tidak lulus seleksi awal. Salah seorang teman berkata, ada beberapa kemungkinan (yang bersifat teknis) mengapa saya bisa gagal. Kemungkinan saya keliru dalam mengunggah berkas-berkas yang semestinya, sehingga berkas-berkas tersebut terlewat  dan tidak terdeteksi. Atau mungkin ada pertimbangan-pertimbangan pemberi beasiswa, sehingga saya dinyatakan tak layak untuk lulus seleksi awal. Ya, segala kemungkinan itu memang bisa terjadi.

Beberapa orang menasehati saya untuk sabar dan belajar mengikhlaskannya. Namun kata ikhlas tak semudah pengucapannya belaka, saya masih membutuhkan banyak waktu untuk belajar benar-benar mengikhlaskannya. 

Jika diibaratkan, sama seperti saat kamu ingin berlomba berlari. Kamu telah berlatih berhari-hari. Mencurahkan segenap tenaga dan perhatiaanmu hanya demi lomba itu. Namun pada hari perlombaan itu dilangsungkan, kamu didiskualifikasi oleh panitia. Kamu kalah, bahkan sebelum kamu melakukan lomba lari. Hal itu dikarenakan sepatumu hilang ulah kecerobohanmu sendiri dan panitia telah memiliki peraturan bahwa setiap peserta lomba harus menggunakan sepatu. Hancur? Sudah pasti.

Pada akhirnya nanti mau tidak mau suka tidak suka, saya memang diharuskan untuk belajar mengikhlaskan. Walaupun kini hati saya masih dilanda kekecewaan, namun saya selalu percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana.

Kini yang harus saya lakukan adalah memutar otak untuk menutupi pembengkakan biaya riset tesis saya. Bekerja paruh waktu dan berburu lomba-lomba menulis menjadi alternatif jalan yang ada di benak saya kini. Ya, saya memang kecewa, namun hidup harus terus berjalan. Kegagalan ini memang harus dibayar dengan sangat mahal, namun kelak segalanya akan lunas terbayar dengan pembelajaran luar biasa yang Tuhan berikan untuk mendewasakan saya. Semoga! 

Seperti bianglala; Hidup memang selalu begitu. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita tertawa dan kadang  bersedih. Kadang bahagia namun kadang pula harus menelan kekecewaan. Tiada jalan lain, selain menikmati tiap moment bialala kehidupanmu. 

See other stories

6 comments

  1. semangat kakak! pasti ada hikmahnya. pasti Allah punya rencana lbih indah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saalam Muthi,
      Aamiin yaAllah, terima kasih ya. Harus semangat! :D

      Delete
  2. kita cuma belum tau hikmah dari semuanya mba :).. sama kyk aku dulu... dipaksa pindah kuliah ama papa...pdhl aku udh jalanin 3 smester di univ yg lama di banda aceh... walopun iming2 pindahnya ke univ swasta di LN, tp ttp aja aku berontak waktu itu.. cuma papa ttp keukeuh.. pokoknya harus pindah! baru 2 thn aku bisa berterimakasih dan tau kenapa Tuhan kepengin aku pindah dan mengulang semua kuliah dr awal... krn trnyta banda aceh dilanda tsunami 2 thn kemudian... dan kalo aja aku ttp menolak pindah dr sana, mungkin aku jg ga bkl bisa BW seperti ini lagi :) .. jd memang, hikmah itu terkadang br kliatan bertahun2 sesudahnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Mbak Fanny,
      Betul mbak, terkadang kita baru mengerti segala hikmahnya lama setelah kejadiannya yah, karena kembali lagi 'manusia selalu membutuhkan waktu untuk mendewasa'.

      Wah nice share mbak, semoga aku bisa belajar dr semuanya, terima kasih sudah sharing mbak, insyaAllah rencana Allah pasti baik :')

      Delete
  3. kalau tidak ada kegagalan, tidak akan ada yang namanya belajar dari pengalaman.

    Tetap semangat, mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam irsyad,
      Terima kasih yaaa, semangat terus! :D

      Delete