My Life's Journal

Attitude-mu, Harimaumu

2/27/2016 10:15:00 PM





Suatu pagi saya berjalan melewati pasar di dekat kosan. Seperti biasa kondisi jalan menuju pasar selalu crowded. Di sepanjang bahu jalan pedagang sayur menjajakan dagangannya. Alhasil space untuk pejalan kaki dan kendaraan bermotor menjadi berkurang. Dampaknya macet pun sering terjadi, karena baik pejalan kaki maupun pengendara motor harus berjalan secara pelan-pelan.

Saya sudah berjalan di sisi yang benar, yaitu sebelah kiri. Namun tiba-tiba sebuah motor menyalip dan menyerempet saya. Lengan kanan saya pun terbentur badan motor itu. Motor tersebut berisikan 2 orang, pengendaranya dan orang yang diboncengnya. Saya pikir motor tersebut akan berhenti dan minta maaf, namun saya keliru. Karena motor tersebut malah tetap melenggang dengan tenang. 

Saya yang kaget, terus memandangi motor yang tidak merasa bersalah itu. Malahan orang yang dibonceng motor tersebut sempat menoleh ke arah saya. Dan anehnya ia malah terus melototin saya dengan mengucapkan beberapa kata-kata mengancam (yang saya baca dari gerak bibirnya) seperti, “Apa lo liat-liat, sini lo kalo berani!”

Saya pun kembali dibuat shock, astaghfirullahal adzim.

Siangnya, saya mengantri di salah satu warung nasi langganan saya. Di jam-jam makan siang warung nasi ini memang selalu dipenuhi para mahasiswa. Karena selain enak, harganya pun sangat pas di kantong mahasiswa, murah meriah! Setelah mengantri cukup lama dan tiba di antrian paling awal, tiba-tiba ada 1 mahasiswi yang berusaha menyerobot antrian saya. Dimana seharusnya antriannya terdri dari 1 line, namun ia malah membuat antrian sendiri dengan 2 line

Namun karena penjual nasinya sudah tau saya duluan yang mengantri, akhirnya dia melayani saya terlebih dahulu. Mahasiswi tersebut pun marah-marah kepada penjual nasi, ia beralasan bahwa ia akan makan di tempat jadi seharusnya dilayani terlebih dahulu dibanding saya yang makannya dibungkus. Namun penjual nasi pun mengelak dengan menyatakan bahwa dibungkus atau makan di tempat sama saja. Semua sesuai antrian. Alhasil mahasiswi tersebut hanya bisa cemberut dan menggerutu.

Dari 2 kejadian pada hari itu, banyak memberikan pelajaran hidup untuk diri saya pribadi. Bahwa terkadang kata ‘maaf, tolong, dan terima kasih’ yang sepertinya sangat sepele, ternyata sangat penting untuk diucapkan sesuai dengan keadaan dan kondisinya. Jika saja pengendara motor yang menyerempet saya mengucapkan maaf, saya tidak akan kesal. Pun dengan mahasiswi yang menyerobot antrian. 

2 kejadian itu membuat saya berpikir bahwa dalam hidup bermasyarakat attitude adalah yang utama. Karena kita hidup bersama masyarakat, yang otomatis memiliki nilai dan norma yang berlaku. Sehari-hari pun kita bersentuhan dengan masyarat dengan segala attitude kita. Lain hal dengan hati. Kedalaman hati seseorang hanya dia dan Tuhan yang tahu, tapi attitude dapat dinilai dan terlihat oleh orang lain.

Sehingga tidak cukup rasanya memiliki dan memperbaiki hati menjadi baik tanpa diiringi attitude yang baik pula. Karena menurut saya, even sepintar dan sehebat apapun seseorang namun jika dia tidak memiliki attitude yang baik maka jangan harap mendapatkan respect yang baik pula dari orang lain. 

Ya, saya mengambil banyak hikmah dari 2 kejadian itu. Salah satunya adalah mengawasi diri sendiri jika lupa dan khilaf akan attitude yang kurang baik. Mungkin saja seringkali attitude saya dinilai kurang baik, namun saya tidak menyadarinya. InsyaAllah, saya akan terus belajar memperbaiki attitude saya agar tidak merugikan orang lain nantinya. Karena ternyata tidak enak rasanya menjadi orang yang dirugikan akibat attitude buruk orang lain.

Sekian curhatan saya, terima kasih ya sudah membaca hehee :)

See other stories

6 comments

  1. Iya Bener. Aduh aku jadi merasa diingatkan. Makasih ya.
    Salam kenal. Ya. Masih inget aku ga? Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo yesi,
      Masih inget dong am yesi hihihi, apa kabar yes?
      Iyah yes, saling mengingatkan yaa kita hihii :)

      Delete
  2. kdg ga abis pikir ya mba.. kok masih ada org2 yg kliatannya sih terpelajar, tp kelakuan masih barbar -__-. ga ngerti salahnya di mana... apa lingkungan ato ortunya yg ga ngajarin ttg attitude yg baik dlm masyarakat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah mbak fanny,nyesek banget ngeliatnya :") tp seenggaknya bisa jd pelajaran buat kita spy jgn sampe attitude kita ngerugiin org lain :D

      Delete
  3. Lengan kanannya nggak apa-apa kan, mbak? *salah fokus*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah cuma biru2 dikit,mas. *malah ditanggeping* :)))

      Delete