Contemplation

Menunggu Reda

12/26/2015 04:31:00 PM

                    Foto: koleksi pribadi


Karena tak membawa payung, saya harus rela menunggu hujan melembut ketimbang kuyup diterjang buliran air yang cukup lebat. Ada banyak hal yang seharusnya dapat saya lakukan sambil menunggu hujan reda di pelataran teras perpustakaan. Namun entah mengapa saya malah memilih untuk membuat tulisan ini. Mungkin menulis blog lebih menarik perhatian saya ketimbang menulis hal-hal yang berbau ilmiah seperti tugas beserta antek-anteknya misalnya, hhehee.

Setengah jam terlewati, namun hujan tak kunjung reda. Dalam masa menunggu hujan reda kali ini, ada beberapa hal yang terlintas di benak saya. Salah satunya adalah perihal menunggu.

Saya kembali teringat kebiasaan saya sewaktu kecil. Lebih tepatnya saat saya belum memasuki bangku sekolah dasar. Saat itu, hal yang paling saya tunggu adalah saat kepulangan ayah dari kantornya. Karena sebulan sekali setelah gajian, ayah selalu membawakan sesuatu yang saya sukai, seperti boneka, coklat, atau eksrim beraneka rasa.

Ayah memang membawakan hal-hal yang saya sukai setiap sebulan sekali. Namun karena waktu itu saya masih teramat kecil, sehingga saya tidak begitu memperhitungkan pola gajian ayah saya. Alhasil setiap hari, saya selalu menunggu ia pulang dengan sumringah. Berharap hari itu adalah hari istimewa dimana ayah saya gajian dan membelikan sesuatu yang saya sukai. 

Namun ternyata saya harus menunggu. Menunggu 29 hari untuk mendapatkan 1 hari itu. Tapi entah mengapa saya tidak pernah lelah menunggu dan selalu bersemangat menunggu sore menjelang maghrib tiba. Saat itu saya memang masih kecil sekali, sehingga saya tidak pernah memperhitungkan besar-kecil pengorbanan yang telah saya lakukan. Jika hari itu bukanlah hari gajian ayah saya, maka saya berharap mungkin besok, atau mungkin besoknya lagi. Ya, namanya juga anak-anak :D

Setelah saya pikir-pikir, apa yang saya lakukan saat itu sama seperti yang apa saya lakukan saat ini. Sama seperti apa yang kebanyakan orang lakukan; menunggu. Terlepas dari berbagai usaha yang kita lakukan,  pada akhirnya kita selalu menunggu diselingi dengan doa-doa baik agar takdir baik selalu melingkupi kita. Kita-orang-orang dewasa- layaknya anak kecil yang terus menunggu sambil berharap agar doa-doa kita dijawab Tuhan. Entah dijawabNya secara langsung, dijawabNya nanti, ataupun diganti dengan yang lebih baik.  

Namun yang membedakan kita dengan anak kecil adalah terkadang kita terlalu perhitungan dengan segala hal. Karena telah pandai berhitung, kita menjadi sering memperhitungkan untung-rugi maupun besar-kecilnya pengorbanan kita. Sehingga tak jarang di dalam masa menunggu jawaban itu, kita sering dilanda kekecewaan. 

Padahal ada saatnya nanti segala apa yang kita tunggu akan menemukan jawabannya. Segala apa yang telah kita tunggu kelak akan terbayar. Cepat atau lambat.. Ah, terkadang saya rindu dengan masa kecil, masa dimana segala ukuran besar-kecil dan tinggi-rendah, bukanlah patokan utama untuk mencapai bahagia. Bahkan dahulu, saya tetap bahagia walaupun harus rela menunggu 29:1 hari untuk mendapatkan hari istimewa saya setiap bulannya.

Hujan telah melembut, saya pun harus segera pulang. Selamat menunggu, ya! 

See other stories

0 comments