Contemplation

Selepas Kepergian Ayah

9/24/2015 05:32:00 PM



23 September 2014.
Masih terngiang di dalam ingatan saya kala perjalanan Bandung-Depok tepat satu tahun yang lalu. Sebuah perjalanan yang penuh haru dan derai air mata. Berteman gulita yang mendekap erat dalam luluhnya buliran air mata yang jatuh ke bumi. Menangisi segala keterlambatan diri untuk dapat melihat hembusan terakhir napas ayah. Menangisi mengapa ayah begitu cepat meninggalkan segalanya. Dan menangisi begitu minimnya bakti saya sebagai seorang anak yang belum banyak membahagiakannya.

Dari kejauhan beratus kilometer, bergetar tubuh ini tatkala mendengar kabar bahwa ayah telah tiada. Segalanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba. Bahkan saya belum sempat meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Mengucapkan terima kasih untuk segala limpahan kasih sayang yang ia berikan selama saya hidup.  berterima kasih untuk segala pengorbanan yang ia lakukan hingga saya dapat berdiri hingga kini. Dan berterima kasih atas segala pelajaran hidup yang selalu ia ajarkan kepada saya.

Jauh di lubuk hati saya, saya ingin bersimpuh dan meminta maaf kepadanya. Maaf untuk segala limpahan kasih sayangnya yang belum sempat saya balas dengan setimpal. Maaf untuk segala jerih payahnya yang sering kali luput dari kesyukuran saya. Dan maaf untuk semua cita-cita yang belum sempat saya bangun untuk membahagiakannya.

Kali ini perjalanan itu kembali saya lakukan. Sebuah perjalanan Bandung-Depok di tanggal yang sama dengan tahun lalu. Menyesapi setiap kenangan yang muncul pada tiap detiknya. Berkelebat berbagai kenangan tentang ayah, masa kecil, dan detik-detik terakhir saat saya masih dapat melihat wajahnya dengan nyata. Memang guratan penyesalan dan rintik air mata itu masih ada. Namun dapatkah itu semua mengubah segalanya?

Hidup memang harus terus berjalan dan kematian adalah sebuah garis takdir Tuhan yang tidak dapat dielakkan. Jika ada pelajaran paling berharga dari semua ini, maka pelajaran hidup tentang kehilangan adalah yang paling menempa saya. Satu tahun berlalu, semoga Tuhan menempatkan ayah di tempat terbaikNya dan semoga kelak kami dapat berkumpul kembali di jannahNya, aamiin.

Untuk ayah, laki-laki pertama yang mengajari saya tentang cinta. Al-fatihah.



23 September 2015, dalam perjalanan Bandung-Depok.

See other stories

0 comments