My Life's Journal

Saat Cinta (saja) Dirasa Tak Cukup

9/20/2015 06:33:00 PM



Bagi perempuan maupun laki-laki yang sudah berusia di atas 20 tahun atau sudah lulus kuliah dan telah memiliki pekerjaan, mungkin pertanyaan “Kapan nikah ?” sudah terlalu akrab dalam menghiasi hari-hari kita. Entah saat berkumpul dengan keluarga besar, bertemu kerabat-kerabat lama yang sudah terlebih dahulu menikah, atau tanpa sengaja berpapasan dengan teman-teman lama di suatu pesta pernikahan. Banyak orang berpendapat bahwa saat seseorang sudah bekerja dan dianggap dewasa, lalu apa lagi yang ingin dicarinya selain menikah?

Idealis saya sih ya, saya ingin menikah tanpa ada embel-embel tuntutan umur yang semakin hari semakin merangkak naik, tuntutan orang tua yang ingin segera menimang cucu, ataupun tuntutan masyarakat yang tak jera-jera bertanya “Kapan Nikah ?”. Inginnya saya, kelak saya akan menikah saat menemukan seseorang yang memang hati saya condong kepadanya. Seseorang yang saya anggap tepat untuk menghabiskan sisa hidup saya dan seseorang yang apabila bersamanya surgaNya terasa begitu dekat *halah malah curhat.

Terlepas dari berbagai macam kriteria yang seseorang terapkan dalam mencari pasangan hidup, salah satu alasan yang paling banyak dikemukakan mengapa akhirnya kita menikah dengan pasangan yang kita pilih adalah karena kita mencintainya. Cinta memang perasaan yang fitrah. Ia disisipi Tuhan pada hati-hati lembut manusia. Namun apakah cukup hanya mengandalkan cinta dalam membangun sebuah pernikahan ? apakah cinta bisa selamanya hidup pada dua manusia yang terus-menerus hidup bersama ?

Pernah suatu waktu saya membaca artikel ilmiah tentang bagaimana otak manusia bekerja saat manusia jatuh cinta. Di artikel tersebut dijelaskan bahwa saat jatuh cinta otak manusia memproduksi berbagai macam hormon yang membuat si ‘dia’ begitu menarik di mata kita. Salah satunya adalah hormon dopamine. Namun karena rutinitas bertemu yang cukup intens, lama-kelamaan otak manusia pun tidak memproduksi hormon-hormon tersebut sebanyak dulu. Hal ini tentunya akan berdampak pada timbulnya rasa bosan pada 2 manusia yang telah hidup bersama untuk waktu yang lama. Lalu masihkah kita hanya mengandalkan cinta dalam pernikahan?

Dari situ saya bertekad jika saya menikah kelak, saya harus memiliki pondasi kuat untuk membangun rumah tangga saya kelak. Karena mencintai pasangan yang akan saya nikahi saja tidak akan cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Salah satu caranya adalah kini saya memulai untuk belajar tentang ilmu pernikahan. Apa sesungguhnya esensi dari pernikahan? Apa tujuan menikah? Bagaimana mengelola konflik setelah menikah? Bagaimana menyikapi rasa bosan yang mungkin terjadi? dan beribu pertanyaan yang kerap menggerayangi pikiran saya.

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam rangka melakukan persiapan menuju pernikahan. Membaca banyak buku tentang pernikahan, mengikuti kajian-kajian, dll. Salah satu cara yang saya lakukan adalah baru-baru ini saya mengikuti Sekolah Pra-Nikah untuk menunjang pengetahuan saya tentang pernikahan. Sekolah Pra-Nikah bukan saja untuk mereka yang sudah siap menikah dalam waktu dekat, untuk orang yang belum tau pasti kapan akan menikah (hanya Allah yang tahu) seperti saya pun sangat dianjurkan untuk mengikuti program ini. Mungkin nanti insyaAllah saya akan share materi-materi yang telah saya dapatkan dari program tersebut.

Tujuan utama saya mengikuti program ini sebenarnya sangat sederhana. Saya ingin menggali pengetahuan saya tentang pernikahan, menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang kadang menari-menari di pikiran saya, dan tentunya mempersiapkan diri saya untuk menuju ‘gerbang itu’ hehee. Karena nantinya akan banyak dikaji tentang esensi dari pernikahan itu sendiri, mengapa Tuhan memerintahkan manusia untuk menikah, hingga bagaimana sebuah pernikahan dipandang menurut sudut pandang agama, hukum, psikologis, maupun kesehatan reproduksi. 

Saya rasa mempersiapkan pernikahan bukan saja untuk orang-orang yang sudah memiliki calon dan akan menikah dalam waktu dekat. Namun bagi sebagian orang yang belum tau kapan akan menikah (seperti saya) juga harus memiliki bekal untuk menghadapinya kelak. Minimal kita memiliki pondasi ilmu untuk membangun rumah tangga 'seperti apa' yang kelak ingin kita bangun bersama pasangan hidup kita. Ya karena kembali lagi, 'cinta saja tidak akan cukup.' Wallahu a’lam.

Kamu, sudah siap menikah ? :')

See other stories

2 comments

  1. untuk yg belum menikah, semoga disegerakan olehNya
    untuk yg sudah menikah, semoga tetap langgeng dan harmonis, sakinah mawaddah warahmah
    insya Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam prajurit kecil,
      Aamiin yaAllah! Terima kasih sdh blog walking :D

      Delete