My Life's Journal

Perkampungan Betawi: Mengobati Kerinduan Hati

9/03/2015 01:16:00 AM



Sebulan yang lalu saya ditugaskan untuk membuat artikel yang menyangkut tentang kebudayaan betawi guna keperluan buletin kampus. Karena merasa informasi dari google saja tidak cukup, maka saya memutuskan untuk melakukan observasi langsung ke Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kebetulan lokasi tempat yang akrab disebut Setu Babakan itu tidak begitu jauh dari rumah saya. Beberapa kali saya kesana untuk mewawancarai narasumber tentang budaya betawi dan mengamati berbagai usaha yang dilakukan dalam mempertahankan warisan budaya betawi.

Situs budaya yang luasnya berhektar-hektar ini sangat dijaga dan dirawat keberadaannya oleh pemerintah Jakarta. Setiap hari-hari tertentu terdapat berbagai macam acara rutin dalam rangka menghidupkan kebudayaan betawi di tengah-tengah masyarakat Jakarta yang multikultural. Acara-acara tersebut seperti pelatihan rutin silat beksi, pertunjukkan lenong betawi, pembuatan ondel-ondel mini untuk buah tangan, dsb. Selain beragam kegiatan tersebut, di Setu Babakan juga terdapat sebuah danau yang cukup luas juga terdapat bebek-bebekan kayuh yang disewakan. Jika ingin melepaskan penat sejenak, kita dapat memesan es kelapa muda sambil duduk-duduk santai di kursi yang telah disediakan persis di tepi danau.

di tepi danau, Setu Babakan

Hal yang pertama kali terlintas dalam benak saya saat mengunjungi Setu Babakan adalah seperti menemukan kembali sebuah rumah. Sebuah rumah yang telah lama saya rindukan. Setengah darah betawi yang mengalir di tubuh saya seperti menemukan kembali esensi rumah yang telah lama hilang. Perasaan bahagia itu pun menyeruak saat saya menemukan kembali serpihan-serpihan cerita dan mengagumi kebudayaan yang telah diwariskan oleh para leluhur.


Kota Jakarta memang tanah betawi, namun derasnya arus urbanisasi membuat Jakarta kini tidak lagi dihuni oleh hanya suku Betawi saja. Bahkan kini tak jarang warga Betawi  hidup di pinggiran Jakarta hingga terlempar dari tanah-tanah mereka sendiri. Dari rumah-rumah mereka sendiri. Ada sekelumit kesedihan yang berhimpitan di dada kala memikirkan hal itu. Namun begitulah sebuah perputaran zaman dan sepertinya kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Yang bisa dilakukan adalah terus menjaga budaya betawi agar tak punah tergerus kerasnya kota metropolitan.

Dari sana, saya memahami banyak hal. Bahwa kesemerawutan kota Jakarta serta sikap individualisme warganya yang tinggi, bukanlah warisan para leluhur betawi. Budaya betawi selalu mengajarkan tentang kesederhanaan serta kerendah-hatian. Bagi saya pribadi, budaya betawi bukanlah dongeng keemasan masa lampau. Karena tanah betawi direbut dari penjajah bukan dengan cuma-cuma. Tanah betawi dibangun di atas pertumpahan darah para leluhur. Dan sudah menjadi kewajiban kita untuk terus menghidupkannya agar tetap lestari. Semoga budaya betawi akan selalu terjaga dan terus hidup di tengah masyarakat Jakarta. Semoga!

See other stories

0 comments