Contemplation

Menikmati Alur TakdirNya

9/10/2015 10:17:00 AM



Kampus, menuju temaram.


Selamat Datang September, selamat datang mahasiswa baru.

Melihat wajah-wajah para mahasiswa baru yang kebingungan saat mendaftar ulang, membuat kegelian tersendiri di hati saya. Betapa tidak, mungkin satu tahun yang lalu saya juga seperti itu; dengan wajah yang (masih) polos dan sangat excited karena akan memasuki dunia perkuliahan kembali. Ternyata sudah 1 tahun lamanya saya belajar di Kota Kembang ini. Rasa-rasanya seperti baru kemarin saya memasuki gerbang perkuliahan sebagai mahasiswa baru, tapi kini sudah mulai dikejar-kejar deadline proposal tesis beserta antek-anteknya. Hidup yang berjalan cepat atau saya yang terlalu santai yah?

Satu tahun di Bandung tidak hanya memberikan saya pengetahuan dari bidang ilmu yang saya tekuni. Namun lebih dari itu. Banyak hal-hal tak ternilai yang saya dapatkan. Hidup mandiri jauh dari orang tua, sepertinya banyak berpengaruh pada pembentukan mental saya. Benar sepertinya saat ada yang bilang, “Kala jauh dari rumah, disitulah kamu akan belajar tentang hidup.” Di tanah rantauan ini, saya pun menemukan saudara-saudara tak sedarah dengan beribu kebaikannya. Mereka adalah saudara-saudara saya, walau kita tiada pernah terikat talian darah yang sama sekalipun. 

Saya tidak pernah menduga sebelumnya bahwa takdir hidup saya harus jatuh pada sebuah kota di garis Parahyangan. Takdir begitu misterius ya? Sama halnya dengan apa yang dialami oleh salah satu teman lama saya. Teman lama saya ini tidak pernah duduk di bangku kuliah. Namun baginya itu bukan penghalang untuk maju. Kesulitan-kesulitan yang dihadapinya sedari kecil, telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh.

Sejak duduk di bangku sekolah, ia tidak pernah malu untuk membantu orang tuanya. Sejak pagi-pagi buta teman saya telah membantu orang tuanya untuk membuat kue serta menitipkannya di warung-warung dan pasar terdekat. Ia bercerita bahwa dia tidak hanya belajar cara membuat kue. Namun lebih dari itu. Dia belajar cara mengelola omzet dagangannya serta belajar tentang marketing untuk memasarkan dagangannya. Dan berkat keuletannya, kini ia memiliki toko kue sendiri dengan beberapa karyawan.

Dia bercerita pada saya, bahwa tak pernah terpikir olehnya dapat membuat usaha sendiri. Mengingat dia tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Namun jika perasaan ragu serta rendah diri itu selalu menghantuinya, sudah barang tentu kini dia tidak mungkin berdiri di kakinya sendiri, memiliki toko kue dengan omzet puluhan juta rupiah per bulan, dan memetik buah dari hasil kerja kerasnya selama ini.

Saya kini memahami, bahwa takdir memang rahasia terbesar dalam hidup manusia. Tidak ada hitungan pasti akannya. Walau kita sudah menghitung secara yakin, kadang takdir bisa meleset jauh dari perkiraan kita. Terkadang juga takdir kerap bermain-main. Melempar kita dari hal-hal yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Dan kita tidak akan pernah tau alur takdir kita selanjutnya kan?

Tapi bagi saya disitulah seninya. Saya tidak dapat membayangkan jika kita sudah mengetahui terlebih dahulu takdir kita seperti apa. Pastinya tidak ada doa-doa terbaik. Tidak ada harapan, pun dengan cita-cita. Takdir terkadang membawa kita pada hal-hal yang melampaui logika dasar kita. Menembus batas-batas paradigma standar diri kita. Ya itulah takdir.

Hingga saya sadari bahwa kemisteriusan takdir lah yang membawa banyak mimpi-mimpi yang awalnya berbentuk ketidakmungkinan, menjadi kenyataan yang siap untuk ditinggali. Siapa yang berkuasa menahan takdir baik utuk segala usaha maksimal setiap manusia? Tuhan pun pasti memberikan takdir yang baik untuk setiap usaha, keringat, air mata, serta doa terbaik setiap hambaNya.

Mari menari-nari di atas takdirNya.



Bandung, di awal semester baru.

See other stories

0 comments