Contemplation

Mutiara itu Bernama Daden

8/14/2015 04:22:00 PM




“Mutiara akan tetap berkilau, walau berada di dalam lumpur sekalipun.” –Pak Ma’arif-

Kira-kira seperti itulah perkataan salah satu guru SD kesayangan saya, selepas saya menerima surat penolakan dari salah satu SMP favorit di Kota Depok. Saya yang kala itu sangat terpukul dan kecewa dengan diri saya sendiri, tidak begitu menggubris perkataan guru saya. Namun justru hingga saat ini perkataan itu terus terngiang-ngiang di dalam kepala saya. 

Mutiara itu kamu
Banyak kesyukuran yang sepertinya harus selalu saya ucapkan di sepanjang hidup saya. Karena saya banyak dipertemukan dengan para mutiara yang tidak pernah kehilangan kilaunya sekalipun tidak berada pada tempat terindah. Kadang mutiara-mutiara itu berada pada lembah-lembah curam berbatu ataupun terbenam pada lumpur sehingga tak kasat mata. Tidak ada orang menengok ataupun mengira bahwa di dalam benaman lumpur itu terdapat mutiara yang cantik. Namun mereka tetap mutiara. Tetap akan terus berkilau.

Salah satu mutiara itu bernama Daden. Saya masih ingat perjumpaan pertama saya dengannya. Ketika itu saya berserta teman-teman sedang melakukan observasi untuk tugas kampus di salah satu SLB di Bandung. Dengan ramah Daden memberi salam dan menyapa kami terlebih dahulu. Dari perjumpaan awal, saya sudah bisa menilai bahwa Daden merupakan anak yang ramah dan supel. Tanpa malu-malu Daden bercerita tentang dirinya dan cita-citanya. Setelah percakapan pertama, tanpa ragu kami pun diajak untuk sesekali berkunjung ke rumahnya.

Suatu hari saya dan teman-teman pun mengunjungi rumah Daden. Dengan keterbatasan yang dimilikinya, Daden menemukan banyak hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Untuk itu dia selalu dibantu oleh seorang helper dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Namun Daden tidak pernah mengeluh. Sama sekali tak pernah mengeluh. Saya seperti tertampar, dengan keluhan-keluhan saya yang sebenarnya tidak begitu penting. Karena disana, saya melihat perjuangan seorang anak yang tanpa mengeluh dengan keterbatasannya.

Dalam kunjungan tersebut, Daden banyak bercerita mengenai hidup, mimpi-mimpi, bahkan kisah cintanya. Salah satu mimpinya saat itu adalah bisa melanjutkan sekolah di pesantren. Dia sangat tertarik dalam memperdalam ilmu agama. Namun mengingat belum adanya pesantren yang memiliki aksesibilitas yang baik bagi pengguna kursi roda, sepertinya niat itu untuk sementara diurungkannya. Daden juga memiliki hobby menulis. Ia sempat menunjukkan beberapa karya puisinya kepada kami. Indah. Ia dapat merangkai kata-kata dalam puisi tersebut menjadi rima yang indah.

Di dalam hidup, manusia memang dihadapkan pada 2 situasi, yaitu: uncontrol situation dan control situation. Dalam uncontrol situation, manusia tidak bisa memilih namun semua sudah digariskan Tuhan. Contohnya, seperti apa orang tua kita, adik-kakak kita, rupa kita, atau bahkan kondisi tubuh kita. Namun pada control situation, manusialah yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam hidupnya. Seperti pepatah yang mengatakan, “Jika telahir miskin itu bukan kesalahanmu, namun jika mati dalam keadaan miskin itu adalah kesalahanmu.”

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib satu kaum, kecuali mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka.” –QS. Ar-rad ayat 11-

Begitupun yang saya lihat pada diri Daden. Terlahir sebagai cerebral palsy tidak mengurung niatnya dalam menggapai cita-cita tertinggi. Daden yang bercita-cita menjadi pengusaha dan penulis tetap menggantungkan asanya setinggi langit. Mengalunkan doa-doa terbaik agar Tuhan mendengar dan semesta mengamini. Dia tidak pernah gentar walau sepanjang hidup harus menggunakan kursi roda sekalipun.

Daden merupakan salah satu potret anak Indonesia yang memiliki cita-cita yang tinggi. Dia menunjukkan bahwa keterbatasannya bukan berarti cita-citanya harus berbatas pula. Dalam hidup, Daden tidak meminta untuk dikasihani. Namun dia hanya meminta untuk diberikan kesempatan. Kesempatan untuk berkarya, kesempatan untuk mengaktualisasi diri, dan kesempatan untuk menjadi hambaNya yang lebih baik lagi.

Dari pertemuan saya dengan Daden, ia banyak mengajarkan saya tentang arti hidup dan perjuangan. Bahwa sejatinya, “Kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan seperti apa, namun kita bisa memilih untuk hidup menjadi apa.”

Saya menulis ini dengan linangan air mata. Bukan air mata kesedihan. Sama sekali bukan. Tapi air mata haru dan bahagia, karena Tuhan telah mempertemukan saya dengan salah satu mutiaraNya. Mutiara yang tetap berkilau walaupun harus mengalami berbagai rintangan. Ya, dia tetap menjadi mutiara. Jangan pernah lelah untuk berkilau, Nak!



Ditulis dengan penuh kasih, dari Ibu Chia untuk Daden :)
 

See other stories

4 comments

  1. Salam kenal buat Daden ka... banyak belajar dari cerita ka Chia.. :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Asia,
      InsyaAllah nnti disalamin yah. Alhamdulillah, tulisan2 ini juga buat pembelajaran diriku sendiri :')
      hayuk atuh main ke bandung lagi ;)

      Delete
  2. Coba diterbitkan salah satu puisinya di artikel ini, terus tunjukan kepadanya, siapa tahu itu akan membuatnya sangat bangga..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam arizuna,
      Wah ide bagus tuh, bisa dipertimbangkan hehee. Trims yah sarannya :D

      Delete