Cerpen

Dan Senjapun Tenggelam di Matamu

8/04/2015 04:43:00 PM



 
(Foto: dokumentasi pribadi)

Kami duduk bersisian di bibir pantai. Tak ada satupun kata yang terucap diantara kami berdua. Semua tampak hening. Yang ada hanya suara deburan ombak dan suara cicitan sekelompok burung pipit yang ingin kembali ke sarangnya. Kami berdua larut dalam senja yang ingin kembali ke garis cakrawala.
 

 “Kamu mau jadi istriku ?” tanyanya memecah kesunyian di senja itu. Aku tercengang. Aku tidak menjawabnya. Dengan wajah tak percaya, aku melihat matanya lekat-lekat. Aku menarik napas panjang. Kualihkan pandanganku ke arah matahari yang mulai turun. Dan aku masih tidak menjawabnya.

“Aku sudah kenal kamu sejak kecil dan kamu sudah kenal aku sejak dulu. Aku rasa kita gak perlu proses pacaran untuk saling kenal lebih dekat kan. Mau menikah denganku?” Aku tertegun mendengar ucapannya. Aku berusaha untuk bernapas dengan normal, namun kenyataannya sulit. Aku sulit bernapas.

“Maukah?” tanyanya lagi.

“Kenapa kamu menginginkanku untuk jadi istrimu ?”

“Aku juga gak ngerti, kenapa keyakinan itu ada di dalam hati. Keyakinan kalau Tuhan telah menakdirkan kita untuk bertemu dan kamu itu jodohku.”

“Kamu percaya jodoh ? kamu percaya pernikahan ?”

“Aku tau, mungkin kamu masih trauma dengan perceraian orang tua kamu. Itu wajar sekali. Tapi kita gak bisa memilih untuk dilahirkan serta dibesarkan di keluarga apa kan? kita hanya bisa memilih untuk menjadi orang tua seperti apa nantinya.”

“Setiap orang menikah pasti percaya bahwa pasangan yang kita nikahi adalah jodoh kita. Tapi terkadang di tengah perjalanan banyak yang berpisah karena merasa tidak cocok, bukan jodoh, atau entahlah. Tapi aku ingin mengarungi kehidupan bersama kamu. Aku gak bisa janji untuk menghadirkan pernikahan yang sempurna nantinya, tapi aku janji kita akan terus belajar bersama untuk saling memperbaiki di rumah tangga kita kelak.”

Mendengar ucapannya membuat kerongkonganku tercekat. Aku tak bisa berkata apa-apa. Langit sudah memerah, begitu pula dengan mataku. Air mata hangat meleleh pada sudut pipiku.

“Kamu adalah jodoh terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Anak-anak kita.” ucapku terbata-bata sambil bercucuran air mata. Ia pun ikut terharu. Aku memandangi wajahnya lekat-lekat. Aku melihat ketulusan di wajahnya, dari wajah teduh seorang laki-laki yang kukenal sejak kecil. Yah dia akan menjadi calon imam untuk keluargaku nanti.

“Sesampainya di Jakarta, aku akan datang ke keluargamu untuk melamarmu. Dan setelah itu kita tentukan tanggal pernikahan yah.” Aku pun menggangguk setuju. Dia menggenggam tanganku dengan lembut. Kala itu senja begitu berbeda. Aku melihat matahari tenggelam di pelupuk matanya. Menyisakan binar harapan yang ingin kurengkuh hanya bersamanya. Ah, terima kasih semesta.

Pada dia sahabatku, yang tidak pernah kurencanakan untuk jatuh cinta; namun kubulatkan hati untuk membangun cinta dengannya. Akan kupercayakan tanganku untuk terus digenggamnya dalam mengarungi kehidupan selanjutnya. Bersamanya, selalu.

***



P.S : Jadi gini, ceritanya diminta untuk membuatkan cerpen oleh salah satu sahabat yang baru saja menikah. Ini udah dibuatin yah teteh, maap aku belom ahli sama urusan cerpen-cerpenan euy :’) Selamat menikah teteh dan mas-nya! semoga sakinah, mawaddah, warrahmah. What the lucky you are to be married with your best friend :’)

See other stories

4 comments

  1. wah selamat yah semoga masnya sukses menjalani ujain hidupnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam angki,
      Aamiin! cc: mas-nya si teteh :D
      Trims yaa udah blog walking ;)

      Delete
  2. Owh Please...
    pas pertanyaan Maukah engkau jadi istriku... boleh diajukan pada sang empunya web ini nggaaa??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huwow ada kang reza nyangkut di blog eiyke hahaha plis atuhlah kang

      Delete