Traveling

Bukit Moko & Patahan Lembang; 'Sebuah Perjalanan Rasa'

8/13/2015 04:48:00 PM



“Chi, gue mau ke Bandung besok. Anterin gue jalan-jalan ya.” Kira-kira begitulah pesan singkat yang dikirim salah satu sahabat perbolangan saya. Sebut saja namanya Reo (nama asli, bukan samaran). Reo yang bekerja di salah satu stasiun tv swasta, memang memiliki jadwal syuting yang cukup padat. Tak heran saat mendapat hak cutinya, dia langsung bergegas untuk berlibur dan Bandung merupakan salah satu destinasi tujuan liburannya. 

Sesampainya Reo di Bandung, saya langsung menjemputnya di gang dekat kostan saya. Beruntung, teman saya mau menampung Reo selama dia menginap di Bandung. Itung-itung memangkas anggaran menginap di hotel. Prinsipnya mungkin begini, “Selama ada yang gratis, kenapa harus cari yang bayar ?” hehee. Malam harinya kami merencanakan destinasi yang akan dituju untuk esok hari. Karena Reo hanya memiliki waktu satu hari untuk menjelajah Bandung, alhasil kami memilih one stop vacation agar bisa menikmati perjalanan satu hari full.


Saya langsung menyodorkannya beberapa tempat liburan yang menurut saya bagus namun juga terjangkau oleh kantong backpacker seperti kami. Salah satunya adalah Bukit Moko dan Patahan Lembang. Saya memang telah beberapa kali kesana, namun rasanya tidak akan pernah puas dan cukup jika mengunjunginya sekali dua kali. Bukit Moko dan Patahan Lembang seperti memiliki daya magnet tersendiri dalam merayu saya untuk kembali. Keesokan harinya, kami pun berangkat ke Bukit Moko dengan beberapa teman seperjuangan saya. 

 

Untuk sampai ke Bukit Moko, kami harus melewati jalan panjang, berliku, dan menanjak. Tak jarang kami menjumpai tanjakan yang terjal, sehingga pengecekkan rem kendaraan sebelum berangkat adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan. Selama perjalanan ke Bukit Moko, saya menyempatkan diri untuk menengok sekeliling. Memandangi berbagai macam bukit-bukit yang terbentang, rumah-rumah warga, ladang sayuran, serta gazebo-gazebo rumah makan yang menawarkan view kota Bandung dari ketinggian. Semua seakan menyatu menambah harmoni dalam perjalanan saya kala itu.

Sesampainya kami di Bukit Moko, kami langsung disambut dengan udara yang amat dingin dan kabut tebal yang menyelimuti wajah Bandung dari ketinggian. Hal inilah yang selalu saya rindukan. Kabut tebal, udara dingin yang menusukki tulang, awan yang berarak, cicitan burung, serta suara gesekan dedaunan pada pohon-pohon yang teduh. Ya, Bukit Moko masih selalu sama. 

Setelah puas menikmati Bukit Moko, kami pun memutuskan untuk hiking ke Patahan Lembang. Memerlukan waktu kurang lebih 45 menit hingga 1 jam untuk bisa mencapai Patahan Lembang dari Pos Awal di Bukit Moko. Pada perjalanan hiking kala itu, saya lebih banyak menyesapi setiap apa yang tertinggal pada perjalanan sebelumnya. Memperhatikan sekeliling juga sesering mungkin menghirup udara dalam-dalam. 




Hingga setelah perjalanan panjang nan melelahkan, sampailah kami di Patahan Lembang. Patahan Lembang masih terlihat sama, seperti terakhir saya kesana. Dan rasa yang timbul pun tetap sama. Otak saya seperti mengenali ciri-ciri rasa itu, dengan sigap dia mengaktifkan jutaan neuron untuk memproduksi hormon endorfin. Jadilah ia kumpulan rasa yang sepertinya akan selalu saya rindukan untuk hadir kembali.




Tak penting seberapa banyak berjalan ke tempat yang sama, namun bagi saya setiap perjalanan memiliki ceritanya sendiri. Saya lebih suka memaknai perjalanan kala itu dengan perjalanan rasa. Semuanya bergumul menjadi satu. Ternyata disetiap perjalanan tidak hanya melulu soal menikmati pemandangan saja. Ada yang lebih dalam dari sekedar sebuah destinasi. Yaitu menikmati setiap rasa yang timbul dari setiap perjalanan yang telah dilalui. 

Kadang terbesit pertanyaan di dalam diri saya, tentang mengapa kita harus berjalan dan mengapa harus terus melangkahkan kaki. Mungkin jawabnya adalah karena saya mencintai perjalanan rasa yang tercipta setelahnya. Di setiap tempat dimana kaki saya berpijak, maka secara otomatis rasa itu akan bergelanyut manja di hati saya. Bahagia, sedih, haru, damai, serta syukur bagaikan turbulensi rasa yang berputar-putar di dalam hati. Dan seperti yang saya bilang tadi, otak saya akan mengenali ciri-ciri setiap rasa, merekam, serta menagih untuk kembali hadir suatu saat nanti. 

Kamu, sudahkah mengalami perjalanan rasamu?






Note: Tulisan pertama tentang Bukit Moko dan Patahan Lembang dapat dilihat disini

See other stories

7 comments

  1. Buset!! keren banget!!
    jadi pengen ke sana...
    salam kenal, mbak....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam reza,
      Ahaha nah makanya hayuk ka bandung! :D

      Delete
  2. Waah! bukit moko! salah satu tempat favorit kalu lagi liburan ke bandung nih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam fahmi,
      Wah sama dong, hayuk explore bandung lagi :D

      Delete
  3. sepertinya kalau ke maen ke Bandung harus memasukkan tempat ini ke list tempat yang akan dikunjungi nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam diah,
      Harus banget dikunjungi mbak :D

      Delete
  4. kak boleh minta recommend buat jalan jalan ala backpacker ke bandung? hehe terima kasih

    ReplyDelete