Arsenal's Supporter

Antara Aku, Ayah, dan Sepak Bola

8/10/2015 08:57:00 PM



Sepak bola memang identik dengan kaum laki-laki. Banyak dari kaum adam yang menggilai si kulit bundar. Entah dalam melakukan aktivitas permainannya ataupun menjagokan klub sepak bola favorit mereka.

Demikian juga dengan ayahku. Seorang laki-laki yang gemar bermain sepak bola. Perkenalanku dengan sepak bola pun diawali dari ayahku. Sedari kecil, ayah selalu mengajakku untuk menonton pertandingan sepak bola setiap weekend. Ayah memang bukan seorang atlet sepak bola profesional, namun tampaknya sepak bola sudah mendarah daging di dalam tubuhnya. Ayah sangat aktif di dalam lingkungan kepemudaan dan memiliki banyak teman. Sehingga ia bersama teman-temannya kerap membuat turnamen sepak bola antar kecamatan maupun antar kota untuk bertanding di setiap weekend

Ayah dan teman-teman satu timnya. 
*Dapet foto ini dari salah satu temen kecil dan ayah-ayah kami emang udah temenan dari semenjak muda, hehe.

Hal inilah yang membuatku tidak asing dengan sepak bola yang identik dengan kaum laki-laki. Sejak kecil, aku sering menonton sepak bola baik di televisi maupun di lapangan besar secara langsung. Disaat anak perempuan seusiaku  memilih menonton tayangan barbie, aku lebih memilih menonton persaingan sengit antara Juventus dengan AC Milan. Bahkan aku sangat familiar dengan beberapa atlet sepak bola ternama kala itu seperti Alessandro Del Piero, Zidane, Filippo Inzhagi, Edgar David, dll. Ya, semua karena ayahku.

Hingga pada pertengahan 2006 akupun jatuh cinta pada Arsenal. Tepatnya pada laga Arsenal melawan Barcelona di final liga champions. Memang pada saat itu Arsenal menderita kekalahan, namun entahlah sepertinya hatiku sudah terpaut dengan Arsenal. Cinta memang tidak memerlukan alasan kan?

Sejak saat itu aku terus mengikuti perkembangan tim kesayanganku itu. Dimulai dari hasil setiap pertandingannya, transfer pemain, rumor maupun gosip, dll. Kecintaanku pada arsenal juga membawaku untuk bergabung pada sebuah komunitas yang berisikan para supporter Arsenal dari seluruh Indonesia. Pada tahun 2011 aku resmi bergabung pada komunitas yang lebih dikenal dengan nama AIS (Arsenal Indonesia Supporter) Regional Depok. 

Annual Gathering Nasional Arsenal Indonesia Supporter (AIS). Jogjakarta. 2011.

Salah satu event rutin yang digelar AIS Depok adalah nonton bareng/nobar setiap match yang dilakoni Arsenal. Akupun sering bergabung untuk nobar. Sepulang nobar yang biasanya hingga larut malam, ayah selalu sedia untuk menjemputku. Kala itu, aku hanya menganggap bahwa rutinitas antar-jemput yang ayah lakukan setelah nobar merupakan rutinitas biasa. Namun kini aku baru menyadari, bahwa hal itu tidaklah biasa. 

Ayah sepertinya ingin mengajarkanku tentang arti tanggung jawab. Ya, karena kala itu aku masih dalam tahap dewasa awal. Namun Ayah telah mengajarkan untuk dapat bertanggung jawab pada diriku sendiri atas kepercayaan yang telah diberikannya.“Mesti bisa jaga diri.” Kira-kira begitulah nasehatnya yang selalu aku pegang hingga saat ini. 

Dahulu, di Indonesia sepertinya tidak lazim jika wanita menyukai sepak bola. Namun ayah tidak pernah melarang kecintaanku terhadap sepak bola, khususnya saat menonton Arsenal sedang bertanding. Di komunitas AIS yang mayoritas beranggotakan laki-laki, ayah tidak bersikap over protective terhadapku. Ia cukup demokratis dalam memberiku kebebasan dan ruang gerak.

Terlebih saat aku memutuskan untuk bergabung dengan tim futsal wanita di komunitas tersebut. Ayah sangat mendukung. Ya walaupun dengan kemampuan serta teknik futsalku yang pas-pasan (asal bisa passing lurus dan gak salah ngumpan ke lawan itu udah seneng banget! Hehee). Namun baginya, selama itu berdampak positif; dia akan terus mendukung putrinya untuk berkembang.


Saat aku masih menjadi "penonton” sepak bola, aku sempat heran mengapa begitu banyak laki-laki yang menggilainya. Namun setelah aku turut bergabung dalam tim futsal wanita, ternyata sepak bola tidak hanya mengasyikan untuk ditonton. Sepak bola juga menyenangkan untuk dilakukan. Ada kepuasan tersendiri saat kau melakukan tugasmu dengan baik. Entah menjadi penyerang, gelandang, bek, maupun kiper. 

 Tim Futsal Goonerettes AIS Depok 

Ayah mengenalkanku dengan sepak bola dan dari sepak bola lah aku mendapat banyak pelajaran. Jika ingin diibaratkan, terkadang hidup seperti saat kita bermain sepak bola. Di sepak bola, aku diajarkan untuk mengedepankan kerja sama tim. Tidak cukup memiliki seorang penyerang yang handal, jika tidak didukung oleh bek yang tangguh maupun kiper yang cekatan. Seorang penyerang dengan nyali pembunuh sekalipun tidak akan bisa mencetak goal jika tidak diberikan assist yang baik dari seorang gelandang.

Begitupun dalam mencapai tujuan hidup, setiap manusia memang membutuhkan keterampilan diri yang baik. Namun perlu diingat, keterampilan diri yang baik tidak akan pernah berhasil tanpa bantuan orang lain. Tidak peduli dengan seberapa pintar, cerdas, atau hebat manusia tersebut. Jika kamu melakoni dirimu sebagai penyerang, kamu masih tetap membutuhan gelandang, bek, kiper, pelatih, dan para official tim untuk memenangi pertandingan kan? 

Pun di dalam Tim sepak bola terdapat berbagai macam peran entah menjadi penyerang, kiper, gelandang, bek, pelatih, maupun official yang hanya bertugas memberikan handuk kepada setiap pemain. Setiap peran tersebut memiliki fungsinya masing-masing di dalam Tim. Jika salah satu tidak ada, maka bisa dipastikan terjadi ketimpangan di dalam tim tersebut. 

Pernahkah kamu melihat disaat salah satu pemain yang diberikan kartu merah oleh wasit? Secara otomatis, semua pemain yang tersisa akan bergerak menutupi kekosongan dari peran pemain tersebut. Sehingga bisa dipastikan bahwa sepak bola tidak hanya berbicara tentang penyerang kan?

Di dalam hidup, kamu bebas memilih peran apapun . Tidak peduli seberapa tinggi atau rendah penilaian orang tentang peranmu, namun yang paling penting kamu dapat menghargai peranmu sendiri. Itu karena yang amat mengerti peranmu adalah dirimu sendiri. Mari memaksimalkan setiap peran yang sedang dijalani, karena setiap peran apapun yang kau pilih; memiliki esensinya masing-masing.

Ah berbicara soal sepak bola memang selalu mengingatkanku pada ayah. Sosok ayah yang sederhana, supel, humoris, dan selalu memiliki caranya sendiri dalam mendewasakanku. Anak perempuannya. Semoga Ayah selalu berbahagia disisi Allah Yang Maha Baik. Aamiin! :')
 

See other stories

10 comments

  1. sama, ayah gue juga suka bola..
    makany gue dari kecil d sekolahin sepak bolah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam edo,
      Wah keren bgt, pasti jago nih main bolanya :D mungkin kalo saya laki-laki saya udah disekolahin sepak bola juga ama ayah saya hehee
      Btw trims yah udh blog walking :D

      Delete
  2. Amin kakak buat ayahnya. Memang sepak bola sekarang sudah mulai dikagumi menyeluruh baik perempuan atau laki-laki. Banyak memang yang didapat dari sepak bola, dari bertanggung jawab akan peran yang di pilih hingga menjalin kerjasama dengan tim maupun pertemanan dengan lawan usai pertandingan. Kakak anggota AIS ya? sama, aku juga anggota AIS regional Medan. salam kenal ya kak dari aku yang juga mempunyai media online sepak bola, bundarsatu.com .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam satu bundar,
      Wah jauh banget member AIS Medan, salam kenal yah. "Once you are gooner, forever we are brother!" hehee.
      Oke siap meluncur ke tkp :D

      Delete
  3. wah keluarga pecinta olahraga ya mbak, toos deh ama ikye juga demikian :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam christanty,
      Yeay samaan! *toos* :D
      Terima kasih yah udah blog walking ;)

      Delete
  4. kalo aku, jd mau nonton bola karena suami :D... dia pemuja liverpool sejati, dan aku jd ketularan sjk nonton liverpool lgs di GBK 2 thn lalu. Lgs bnran suka :D... tp ttp aja, enakan nonton lgs trnyata ya drpd di tv ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Mba fanny,
      wah mbak liverpudlian yah? hihihi. iyah mbak andai aja jarak indonesia-inggris deket, kita bisa sering nonton live tim sepak bola favorit kita deh :p

      Delete
  5. Salut bisa punya keluarga seperti keluarga mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam timur,
      Hhehe alhamdulilah, tapi saya percaya bahwa setiap keluarga memiliki warnanya masing2 :D
      Trims yah udah blog walking :D

      Delete