Contemplation

Memutar Kembali Waktu

7/04/2015 02:41:00 PM





 sumber gambar disini

Semakin bertumbuh dewasa, sepertinya saya harus banyak belajar untuk menolerir segala hal. Menolerir pada segala perubahan hidup, untuk mengganti kebiasaan lama, juga untuk membiasakan hal-hal baru. Termasuk menolerir keberadaan sahabat-sahabat saya. Sahabat yang dahulu pernah bertumbuh, menghabiskan waktu, berbagi kebahagiaan, atau sekedar menertawakan kegetiran bersama, kini harus dipisahkan dengan jarak dan berbagai kesibukan. Komunikasi dan intensitas pertemuan pun menjadi terbatas. Pertemuan hanya bisa dilakukan saat kami sama-sama memiliki waktu senggang. 

Seperti halnya yang saya alami saat ini. Memiliki jatah libur kuliah lebih dari 2 bulan, banyak memberikan kesempatan untuk saya dapat bertemu dan berkumpul kembali dengan para sahabat. Hingga tanpa disadari, saat berkumpul kembali banyak hal yang telah berubah pada diri saya sendiri maupun pada diri sahabat saya. Dimulai dari penampilan, status, pemikiran, sikap, maupun dengan jalan hidup. 

Pada saat berkumpul kembali dengan para sahabat, waktu seakan berhenti. Dengan menggunakan lorong waktu, kami pun kembali pada suatu masa yang tak kunjung habis. Memutar kembali kenangan-kenangan manis, menertawakan kekonyolan di masa lampau, berbagi cerita yang selama ini terlewatkan, atau sekedar mengungkapkan mimpi-mimpi dan rencana-rencana indah di masa depan. Hingga saya sadari, bahwa saya telah melewati suatu masa dimana saya diberikan Tuhan kesempatan untuk menjalani hidup bersama sahabat-sahabat terbaik. 

Sahabat-sahabat yang tidak hanya memberikan pelajaran hidup berupa manisnya madu, namun mereka juga mengenalkan rasa pahit empedu tanpa lupa menyisipkan penawarnya. Saya yakin, kelak semua proses yang telah dilalui bersama akan mendewasakan kami. Mematangkan segala konsep serta perspektif kami tentang kehidupan. Membekali diri dengan ilmu kehidupan yang tidak diajarkan di bangku sekolahan. 

Hingga pada suatu titik, bekal yang diperoleh dirasa cukup untuk menghadapi kehidupan selanjutnya. Dan di ujung jalan, merupakan saat yang tepat untuk saling mengucapkan selamat tinggal. Satu-persatu sahabat pun memilih jalan hidupnya. Menghilang dan larut dalam pilihannya masing-masing. Membiasakan diri untuk saling melepaskan demi mencapai tujuan yang telah dipilih. Namun satu hal yang saya yakini, bahwa ini hanya ujung perjalanan bukan akhir segalanya. Nantinya pasti terdapat persimpangan-persimpangan jalan selanjutnya dimana kami akan bertemu dan beririsan.

Waktu memang guru terbaik. Dia mengajarkan saya bahwa kini tingkat persahabatan bukan lagi didasarkan pada banyaknya intensitas bertemu atau bertatap muka. Namun memastikan sahabatmu dalam keadaan baik disana dan menyambungnya dengan doa-doa yang baik, itu sudah lebih dari cukup.


Jika kamu memiliki sahabat-sahabat terbaik, jangan pernah disia-siakan, yah! Karena rizki dari Tuhan tidak hanya berupa harta benda, namun dikaruniai sahabat-sahabat terbaik adalah salah satunya.


See other stories

8 comments

  1. Sahabat memang salah satu hal terindah :)

    ReplyDelete
  2. Aku juga ngerasain kok kayak kamu. Rasanya berpisah sama sahabat karena udah beda sekolah. Tapi, kalau udah ketemu sahabat... udah dah, lupa waktu, lupa segalanya. Kayak lagu Gitagut "tak ada satupun masa seindah saat kita bersama." :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Riska,
      Iya, kadang kita harus mengikhlaskan perubahan sahabat2 kita. Tapi nanti ada masanya untuk bertemu dan memutar waktu kembali :)
      Trims yah udh blog walking :D

      Delete
  3. emang enggak akan habisnya deh kalau udah ngebahas sahabat :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam doni,
      Setuju don, sahabat salah satu topik yg gak akan pernah abis buat dibahas :')
      Trims yah udah blog walking :D

      Delete
  4. cuittt cuitttt..setujuuu bu chiaaa ...hahaha

    ReplyDelete