Traveling

Lamongan; Rumah Kedua di Timur Jawa

7/05/2015 04:48:00 PM



You can find home wherever your heart is

Ini merupakan perjalanan pertama saya ke timur jawa seorang diri. Dengan kereta Sembrani, sang kuda besi pun melaju cepat membelah gulita dan memecah kesuyian malam. Hingga pagi menjelang, kereta saya pun tiba di stasiun Lamongan. Saya segera dijemput oleh sahabat saya, Pep. Dialah yang rumahnya akan saya singgahi untuk beberapa waktu.

Sebenarnya tujuan utama saya ke Jawa Timur adalah untuk mengikuti seminar di salah satu kampus di Surabaya. Namun berhubung saya ber-partner dengan Pep menjadi presenter dalam proceeding di acara seminar tersebut, maka untuk mempersiapkan bahan-bahan proceeding kami, Pep mengajak untuk menginap di rumahnya.

Dengan menggunakan sepeda motor, Pep menjemput saya dari stasiun menuju rumahnya. Ternyata suhu udara di Lamongan tergolong panas. Sepanjang penglihatan saya, pada sisi kanan dan kiri jalan terdapat banyak tambak ikan. Tidak ada bentangan sawah-sawah seperti ekspektasi saya sebelumnya. Yang ada hanya tambak-tambak ikan dengan air-air yang memantulkan cahaya matahari. 

Saat saya bertanya kepada Pep, ternyata sebagian besar mata pencaharian penduduk Lamongan bergantung pada tambak-tambak ikan tersebut. Contour serta tekstur tanah di Lamongan tidak begitu cocok untuk menanam padi maupun palawija. Sehingga sebagian besar warga Lamongan bergantung pada tambak-tambak ikan sebagai mata pencaharian utamanya.

 tambak-tambak ikan, Ds. Glagah, Lamongan.

Sesampainya saya di rumah Pep, saya langsung disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Pep yang merupakan anak pertama memiliki beberapa adik yang lucu dan menggemaskan. Suasana kekeluargaan terasa sangat kental di rumahnya. Sebuah keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan cukup banyak anak menambah kehangatan dalam rumah tersebut. Saya langsung teringat dengan keluarga saya di rumah. Ya, setiap keluarga memang memiliki warnanya masing-masing.

Keluarga Pep, sangat menerima saya dengan tangan terbuka. Seakan menganggap saya sebagai anak sendiri. Begitu baik. Terkadang saya merasa malu dan tidak enak hati karena terlalu merepotkan, namun mereka menganggap itu sudah kewajiban mereka dalam melayani tamu. Bagi mereka, tamu merupakan raja. Ah, baik sekali.

Ibu banyak bercerita tentang kehidupannya. Tentang perjuangannya membesarkan anak-anaknya. Keadaan yang membentuknya menjadi pribadi yang tangguh. Namun dibalik ketangguhannya, seorang ibu tetaplah seorang ibu. Ia memiliki hati yang lembut dan sifat penyayang, yang selalu membuat anak-anaknya rindu untuk pulang. Bapak; meskipun awalnya tidak terlalu terbuka namun inilah cara beliau menjaga anak-anak perempuannya. Memastikan anak perempuannya dalam keadaan baik, walau tanpa banyak bicara. Namun di akhir pertemuannya dengan saya, sepanjang perjalanan pulang saat menghantarkan saya ke stasiun, Bapak pun banyak bercerita. Bercerita tentang tanggung jawab seorang laki-laki terhadap keluarganya. Bekerja keras hingga memastikan anak-anaknya dapat menggapai segala mimpi tertingginya. Sosok sederhana yang selalu bersedia menopang anak-anaknya. Mereka merupakan bapak dan ibu kedua saya.


 mlaku-mlaku isuk, Ds. Glagah, Lamongan.

Pada suatu pagi, saya dan Pep berjalan-jalan di sekitar tambak-tambak warga. Menyesap dalam-dalam udara dingin yang masih menusuk tulang. Melihat kecantikan Lamongan pada pagi hari. Ditemani seberkas gelap yang masih menyisa dan cicitan burung yang memecah pagi. Begitu tenang. Begitu damai. Semua ini mengingatkan saya pada rutinitas di kota-kota besar. Dimana pastinya, sepagi ini orang-orang telah berbegas untuk menuju kantor. Menghindari kamacetan yang akan menyeruak apabila terlambat beberapa menit saja.

Ya, mungkin kota menjanjikan segalanya. Kehidupan yang lebih baik serta mimpi-mimpi yang siap untuk digapai. Kota juga dapat menyilaukan matamu dengan gemerlapnya. Namun desa akan selalu kau rindukan untuk pulang. Tempat dimana rumahmu berada. Tempat paling nyaman untuk sekedar bersandar atau berkeluh kesah di pangkuan ibunda.

Dulu, yang terlintas di benak saya setiap mendengar kata Lamongan adalah soto nya yang khas. Namun kini, Lamongan mengandung arti lebih dari sekedar rasa soto yang lezat. Lewat kesederhanaannya, Lamongan mengajarkan saya tentang cinta, kasih sayang, dan keluarga.

Ini kali pertama saya ke Lamongan, namun segalanya seperti tak asing. Karena keramah-tamahannya, Lamongan seperti rumah kedua yang kelak akan saya rindukan. Terima kasih banyak Pep dan Keluarga, juga Lamongan salah satu kota terkasih. Kelak saya akan kembali lagi, insyaAllah! :)






TIPS & TRICKS :

  1. Salah satu yang terkenal di Lamongan adalah budidaya udang vanami. Jika ke Lamongan wajib mencicipi udang vanami yang memiliki cita rasa berbeda dengan udang-udang lainnya. 
  2. Selamat berjalan!   

See other stories

10 comments

  1. seneng qoute di paragraf kedua terakhir hehehe

    udang vamininya boleh dicoba kapan2 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajib coba udang vanami nya alan, enak! :9
      Makasi yah udh baca :D

      Delete
  2. Kalo main ke Lamongan lagi mampir juga ke Tuban dong, kak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam winda,
      Tuban deket yah dr lamongan?
      Siap! Duh jadi kepengen explore jawa timur nih hehe
      Btw trims yah udah blog walking :D

      Delete
  3. tak bisa berkata-kata lagi rasanya... terimakasih sahabatku.. jangan kapok datang lagi yah.. #peluk jauh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Samisami caabatku, Pep. Salam buat keluarga di Lamongan yaahhh. Rindu rasanyaaaa :') #pelukjauh

      Delete
  4. Replies
    1. Salaam agung,
      Alhamdulillah, trima kasih yah udh blog walking :D

      Delete
  5. hihihi.. tulisan nya bagus bagus kok.. bukan sekedar blog walking lagi ini mah.. bakalan jadi sarapan tiap hari..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh alhamdulillah, masih mesti belajar nulis lagi ini hehee. Ayo ditunggu kritik dan sarannya yah :D

      Delete