Contemplation

Saat Ingin Menyerah

6/17/2015 12:26:00 PM



Siang itu langit tampak cerah, berwarna biru laut dengan kepulan awan menggumpal bagai kapas-kapas lembut permen gulali. Memang terlihat indah langit siang itu. Dengan suasana yang tidak begitu ramai dikarenakan sejumlah orang sedang melaksanakan sholat jum’at, sehingga aku menjadi lebih khusyuk dalam memandanginya. Di tengah raga yang lelah dan semangat yang hampir memudar, aku melihat ada yang berbeda pada langit siang itu. Bagai seorang buta yang melihat secercah cahaya atau bagai seorang tuli yang mendengar nyanyian indah burung-burung. 

Pada langit siang itu, aku melihat mimpi-mimpiku menggantung di angkasa, melambai-lambai manja seakan menggoda untuk segera dijemput. Mimpi-mimpi itu begitu tinggi, juga begitu jauh. Ada yang bergetar di dalam hati, sebuah keraguan. Yah sebuah keraguan. Apakah aku dapat menggapainya ? 

Pada langit siang itu, aku melihat wajah ibu. Wajah wanita yang paling kusayangi. Terlihat jelas pada wajahnya guratan-guratan menua, seakan itu semua menjadi saksi betapa keras perjuangan hidupnya. Wajah wanita penuh harap yang menggantungkan asanya padaku, pada mimpi-mimpiku. Wajah wanita yang pada sorot matanya dapat kurasakan kepedihan, namun dengan pandainya ia menutupi rapat itu semua di depan anak-anaknya. Sehingga yang terlihat hanya sosok wanita yang kuat, walau harus berjuang sendirian.

Pada langit siang itu, aku juga melihat wajah ayah. Wajah yang tidak bisa lagi kulihat secara kasat mata. Wajah yang hanya bisa kuingat dan kukenang sendiri dalam beribu doa. Terbayang kenangan masa kecil penuh kebahagian yang kuhabiskan bersama ayah. Bercerita tentang mimpi dan harapan-harapan yang berakhir indah. Wajah ayah yang penuh dengan keteduhan, seakan membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja. Wajah ayah yang kuharap kini tengah berbahagia disisi Tuhan.

Pada titik terlelah dalam hidup, adakalanya aku ingin menyerah. Melupakan segala perjuangan yang telah aku lakukan hingga aku berada pada titik ini. Melupakan segala harapan orang-orang yang banyak menggantungkan asanya pada diriku. Rasanya ingin berhenti saja. Namun langit siang itu mengingatkanku bahwa hidup patut diperjuangkan. Seakan mencambukkiku untuk terus berlari dan mengejar mimpi-mimpi. Teringat kembali dengan apa yang telah orang tua perjuangkan hingga aku sampai pada titik ini. Segalanya telah mereka lakukan agar aku tidak pernah berhenti untuk berlari, berlari mengejar mimpi-mimpi. Lalu, pantaskah aku untuk menyerah ? 

Terkadang hal-hal sederhana memang dapat mengingatkanmu dengan berbagai hal. Mengingatkan kembali untuk segera mengusir segala rasa malas yang merongrong di dalam diri. Termasuk juga menamparmu untuk dapat bangkit dan tidak nyenyak terlelap. 



Kini mungkin saatnya untuk berpayah-payah, berlari ribuan kilo hingga kaki terasa kebas, menangis sederas-derasnya hingga berkawan dengan rasa pedih,  juga menenun doa-doa  yang terus-menerus dirapalkan agar Tuhan mendengarnya. Namun kelak kita dan mimpi-mimpi yang kita gantungkan jauh tinggi di angkasa; akan dipertemukan Tuhan pada waktu yang pantas. Semoga!



Masih ingin menyerah ?


 
Terima kasih langit yang indah pada sebuah siang di salah satu kampus teknologi terbesar di Bandung. 

See other stories

8 comments

  1. Jangan menyerah,,,,setuju cyin..,,:)

    ReplyDelete
  2. Karena saat menyerah saat itulah kau memilih gagal. Semangaat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Marfa,
      Setuju banget, semangat terus! :D

      Delete
  3. Siip, jangan pernah menyerah :) selalu ingat akan mimpi2 yg blm tergapai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Zalfaa,
      Betul, salah satu yang menguatkan untuk tidak menyerah adalah masih banyak mimpi yang harus digapai :D

      Delete
  4. Semangat sama mimpi dari awal :)

    ReplyDelete