Contemplation

Jodoh Oh Jodoh

6/15/2015 10:54:00 PM



Sepertinya pembahasan soal jodoh merupakan salah satu topik yang paling menarik untuk dibahas oleh para bujang di tanah rantauan. Tak terkecuali saya dan teman-teman seperbujangan. Kami yang notabene banyak terdiri jomblo-jomblo bahagia (eh koreksi single berbahagia dengan usia yang sebenarnya sudah sangat relevan untuk menikah) sesekali menyelipkan pembahasan tentang jodoh diantara topik-topik hangat seputar tugas kampus beserta antek-anteknya. Entah mengapa yang pada awalnya sedang membahas topik A akan berujung pada topik seputar jodoh. Saat membahas topik B, pun akan berujung pada topik seputar jodoh juga. Bisa dibilang apapun yang dibahas akan berujung pada pembahasan soal jodoh atau UUSJ (Ujung-Ujungnya Soal Jodoh).

Jomblo Ngenes eh Single Ngenes?
Tidak. Kami tidak hobby meratapi nasib sebagai single. Kali ini saya akui, bahwa kami bukanlah single-single kesepian yang meratapi takdir sebagai single-fighter. Kami cukup bersabar untuk tidak menangisi takdir sebagai single. Kami cukup dewasa (mungkin) untuk memupus rasa iri dengan orang lain yang sudah memiliki pasangan hidup. Namun adakalanya kami cukup penasaran dengan jodoh-jodoh kami kelak. Seperti apa dia? bagaimana sikapnya? tinggal dimana? anak mana? yah seperti mengasyikkan menerka-nerka jodoh kami. Kadang ada keisengan antara saya dengan teman-teman seperbujangan, saat menerka-nerka seperti apa jodoh kami kelak. Tak jarang kami saling berseloroh dan menjodoh-jodohkan satu sama lain, tapi ujung-ujungnya gak ada satupun yang jadi. Status single pun tetap setia menempel pada kartu tanda pengenal kami hahaa!


“Mungkin belum jodoh”
adalah excuse paling sering diselorohkan saat gagal mencoba suatu hubungan dengan seseorang. Entah saat satu pihak menaruh hati tapi pihak lain tidak atau saat pihak lain suka tapi pihak yang satu engga. Saat dua pihak saling suka tapi gak ada restu orang tua. Saat dua pihak saling suka, orang tua sudah merestui tapi semesta tidak mendukung, dll. Ujungnya-ujungnya belum jodoh, alesannya sih gitu.

Mau cari yang seperti apa sih?
Mungkin itu pertanyaan paling menohok pada single-single seperti kami. Di satu pihak tentunya ada keinginan untuk memiliki pasangan hidup seperti yang lain. Namun di lain pihak, kami menginginkan orang yang benar-benar tepat untuk menghabiskan masa tua bersama. Selektif? Menyadari manusia tidak ada yang sempurna (termasuk kami), pastinya kami pun tidak mematut kriteria yang sangat tinggi untuk urusan jodoh. Hanya belum dipertemukan jodoh yang tepat, itu saja. Salah seorang sahabat saya pun berkata, “Saya bukannya selektif, namun saya tidak melihat sesuatu dari bungkusnya saja. Bungkus dapat berubah sewaktu-waktu, tapi isinya akan tetap. Jika saya masih memutuskan untuk single, itu berarti saya belum menemukan orang yang saya anggap patut untuk diperjuangkan.”

Semesta seperti merencanakan sesuatu, akhir-akhir ini saya sering dipertemukan dengan single-single fighter dengan berjuta kisah di belakangnya. Ada yang bilang, “Hal yang paling baik adalah saat kita bisa belajar dari pengalaman orang lain”, sehingga saya pun banyak mengambil pelajaran dari perjalanan kisah cinta orang lain. Mengapa mereka masih tetap mempertahankan status single mereka di tengah gempuran usia yang meninggi, mengapa tak kunjung menikah walaupun sudah menjalin kasih bertahun-tahun dan berujung putus di tengah jalan, mengapa dapat ditikung sahabat sendiri, mengapa tak kunjung move on dari orang yang jelas-jelas telah memberi luka, dan berjuta tanya lainnya akan status single mereka. Bagi saya jawabannya simple; mereka belum menemukan jodoh yang tepat.

Adakalanya manusia memang memerlukan penguatan. Dan sadar atau tidak, saya banyak mendapat penguatan dari berbagi pengalaman kisah cinta orang lain. Semua seakan menyadarkan saya; bahwa masih banyak single-single di luar sana yang menikmati hidup mereka, bahwa kisah cinta tidak selalu seperti di ftv yang berujung manis, bahwa terkadang untuk bertemu dengan jodoh kamu harus dipersiapkan Tuhan terlebih dahulu, dengan; entah ditempa oleh hidup atau didewasakan oleh waktu. Hingga saya berkesimpulan, mungkin saya memang diminta Tuhan untuk banyak belajar terlebih dahulu sebelum benar-benar bertemu dengan jodoh saya. Mungkin loh ya.




“Ada banyak cara Tuhan untuk mendewasakanmu, salah satunya adalah menyendirikanmu untuk beberapa waktu.” –Bang Jeki-


Jadi inti dari tulisan ini apa? gak ada intinya sih. Ini cuma salah satu hasil perenungan saya sesaat setelah membaca bbm dari Ibu yang berisi, “Gimana Teh, Udah dapet gebetan belum?”

See other stories

12 comments

  1. di publish juga kisah yang ini cyin hhhhaaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahaha iyah, namanya juga pancur yah :')

      Delete
  2. Hmmm bentar lagi Ramadhan - lebaran.

    Mau pilih yang gimana mas?
    ...dan aku hanya bisa tersenyum.

    ReplyDelete
  3. lebaran benter lagi,, pasti pada nanyain jodoh.. ayoo cari, chi.. mau yang kaya gimana? furqon nganggur tuh hehehehehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener pakis, mesti kuat hati ditanyain jodoh pas lebaran nnti :')
      Ahaha kalo uqon mah caabat pakis, caabat perbujangan :)))

      Delete
  4. Ada yg bilang jodoh itu perkara "klop" dan ada juga yang bilang jodoh itu perkara "kompromi". Yang jelas jodoh itu misteri Illahi yang kita manusia hanya bisa meraba-raba dan menerima tanggung-jawab tsb kalau Tuhan sudah bilang "yes".

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam wihikan,
      Setuju! Ada yg bilang juga "cari jodoh terbaik adalah memantaskan diri dgn kriteria yg kita inginkan."
      Entahlah, sebelum benar2 bertemu, perihal jodoh memang paling menarik untuk dibahas :D
      Terima kasih yah sudah blog walking :)

      Delete