Contemplation

Anak Sang Matahari

6/22/2015 05:52:00 PM

sumber gambar disini


Apa yang kamu lakukan saat hatimu sedang gulana ?
Hal yang terbersit pertama kali dalam benakku saat membuka mata adalah aku ingin melihat sunrise. Aku tahu secara pasti spot terbaik untuk melihat sunrise di area kampus dan kebetulan letak kosku tak begitu jauh dari kampus. Alhasil jadilah pagi-pagi buta sebelum matahari beranjak naik aku sudah bergegas pergi menuju kampus. Hari itu memang tidak ada jadwal kuliah, namun entah mengapa aku bersemangat menuju kampus. Yah, hanya untuk melihat sunrise. Mungkin ini terlihat aneh atau sedikit gila, tapi bagiku ada berbagai cara untuk berdamai dengan gulana yang sedang menggerayangi hati. Salah satunya adalah melihat sunrise seorang diri. 

Aku duduk menepi pada sebuah teras stadion olahraga di area kampus, menikmati setiap detik perjalanan matahari meninggalkan singgasananya. Membiarkan hangatnya merembes masuk ke dalam pori-pori hingga terasa tajam menusuki kulit juga membiarkan sinarnya menyilaukan mata hingga aku harus menyipitkan kedua belah mataku. Aku menikmati kesendirianku dengan matahari. 

Hingga beberapa saat kemudian, aku menyadari bahwa aku tak akan sendiri lagi. Dari kejauhan terlihat sesosok bayangan anak laki-laki berjalan mendekat. Bayangnya semakin lama semakin nyata. Dia tidak lenggang, namun membawa tumpukkan beberapa keranjang kue. Tampaknya dia merupakan salah satu dari anak-anak yang sering berjualan donat di sekitar kampusku. Anak itu duduk di dekatku tanpa bersuara. Aku yang sedang gulana pun demikian, tampak malas menyapa atau sekedar berbasa-basi dengannya. Kami duduk bersisian dalam diam. Cukup lama kami duduk sambil terdiam, terpaku dan termangu dalam lamunan masing-masing sambil menikmati sang raja siang memecah kegelapan dari sisa-sisa malam. 

Sesekali aku melirik ke arahnya, mengamatinya dengan seksama, namun aku tetap enggan untuk berkata. Sosoknya sangat sederhana, tubuhnya lumayan kurus, dengan kaos yang lusuh, celana training cungkring, dan sendal jepit swallow. Dalam cahaya emas matahari yang beranjak naik, aku melihat bayangan anak yang duduk di sampingku ini. Dengan posisi duduk sambil memangku tumpukkan keranjang donat dan posisi dagu yang ia sandarkan pada tumpukkan keranjang tersebut, bayangnya begitu hidup. Ia duduk termenung dengan mata yang sayup sambil sesekali menahan kantuk yang menderanya. 

“Jualan apa dik ? engga sekolah ? abis ini mau kemana?” dan bertubi-tubi pertanyaan lainnya yang sayangnya hanya dapat kukubur dalam hati. Kami tetap diam. Tidak ada dari satupun dari kami yang berbicara atau berinisiatif untuk membuka percakapan. Saat itu kami seakan sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. 

Perlahan dia pun bergegas meninggalkanku. Mengangkut kembali tumpukkan keranjang donatnya dan pergi sambi berlalu. Dari kejauhan aku dapat melihat punggungnya berjalan menjauh membawa asa yang sempat ia tinggalkan pada bayangan matahari. Langkah kakinya yang kuat menapak tanpa ragu pada setiap tapakan kehidupannya. Tubuhnya yang kurus bukan sebuah parameter kuat atau tidaknya ia menjalani hidup. Namun dengan tubuhnya yang kecil itu, dia seakan tak ragu dalam manantang matahari. Kulitnya yang kecokelatan seakan menandakan bahwa ia tidak pernah takut dengan panasnya mataharinya. Sekalipun matahari dengan leluasa membakar kulitnya. Karena dia adalah anak sang matahari. Matahari itu sendiri. 

Terkadang hidup suka memberi kejutan tak terduga, salah satunya adalah pertemuanku dengan anak ini. Dalam diam, dia telah banyak bercerita bahwa dia adalah anak sang matahari yang menggenggam malam dengan gulitanya.

Sampai jumpa lagi, Dik. Mungkin lain kali kita bisa berbincang.





Bandung, pada hari penuh gulana

See other stories

4 comments

  1. Wah awas bisa cinlok tuh nanti #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Pandu,
      Atuhlah dia masih anak-anak :'))

      Delete
  2. Baca postingannya jd galau nih. Yah kan... tanggung jawab dong! haha

    Komen juga d blog ku yak: http://bit.ly/1K39GQF
    TQ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam samudra fachry,
      Hahaa maap yah galau gak tanggung jawab :p
      Udah mampir di blognya, seru tulisan2 ttg traveling. Jd kepengen naik gunung :')
      Btw trims yah udh blog walking :D

      Delete