Contemplation

Belajar dari Sebuah Pohon

5/14/2015 09:52:00 AM


“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” -Al Isra’ : 37-

Akhir-akhir ini saya dan Tim diharuskan bolak-balik ke salah satu kampus teknologi terbesar di Bandung guna menyelesaikan salah satu project kuliah kami. Dalam perjalanan pulang dari kampus tersebut karena keisengan dan kekurangkerjaan saya (yang suka jeprat-jepret hal-hal yang saya anggap menarik), saya pun memfoto sebuah pohon besar namun hampir mati. Saya tidak mengetahui secara pasti jenis pohon tersebut, tetapi dari bentuknya pohon itu memiliki kerangka yang sangat besar dan tingginya pun menjulang ke angkasa.

Saya pun membayangkan, mungkin dahulu pohon ini terlihat amat gagah dengan dahan yang kuat dan ranting-ranting pohon yang banyak. Dahulu, mungkin pohon ini terlihat sangat rimbun, dengan dedaunan hijau yang menghiasi tiap rantingnya. Cantik. Dahulu mungkin pohon ini memiliki kebermanfaatan bagi sebagian orang. Orang-orang dapat berteduh di bawahnya, terlindung dari terpaan hujan ataupun dari sengatan panas matahari. Namun kini pohon itu hampir mati. Tidak ada daun hijau yang menghiasi. Yang ada hanya sisa-sisa kegagahan kemarin sore.

Saya pun berpikir sejenak. Merenung. Dan bertanya-tanya pada diri sendiri. Ah, Mahluk. Yah, ternyata hanya mahluk.

Manusia, hewan, dan tumbuhan hanya ‘sekedar’ mahluk. Termasuk pohon yang telah saya ceritakan tadi. Hanya mahluk. Saya pun kembali merenung dengan sifat paling esensi mahluk, yaitu: lahir dari ketidakberdayaan – belajar untuk berdaya – dan kembali menjadi tidak berdaya lagi. Kenapa ? karena mahluk memiliki batas. Memiliki waktu. Dan memiliki masa.

Lalu apa yang tidak berbatas ? tidak termakan waktu ? dan tidak tenggelam dalam masa ?

 (dokumentasi pribadi)


“Kamu dapat menjadi sebesar apapun yang kamu mau dan menggapai setinggi apapun yang kamu impikan. Tapi ingat satu hal; bahwa sebesar dan setinggi apapun ‘mahluk’ suatu saat pasti akan layu, mati, dan tak berdaya.”

See other stories

6 comments

  1. Sehebat apapun masusia seuatu saat nanti pasti mati O:)
    Artikel yang sangat bermanfaat #SalamKenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam daffa,
      Alhamdulillah, terima kasih yah sudah blog walking :D

      Delete
  2. tulisannya bagus kak heheh.. menggugah..
    kalau sempat kunjungi blog saya ya kak, tapi tulisannya belum sebagus tulisan kakak hehhe.. http://ayamkuhh.blogspot.com/2015/05/hidup-dan-perpindahan-kamu-dan-aku.html semoga suka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam rizaldy,
      Alhamdulillah, Terima kasih sudah blog walking! :D
      Blog kamu udh saya kunjungi, menarik! :D saya jg msh belajar menulis hehee, yg paling penting jangan berhenti menulis yah

      Delete
    2. terima kasih juga kak sudah membaca :) hehehe iya kak

      Delete