Contemplation

Cinta (memang) Butuh Komitmen

1/22/2015 06:58:00 AM



Selama liburan di rumah, saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan beberapa sahabat yang baru saja menikah. Ini saya lakukan seperti penebus dosa karena saya tidak dapat menghadiri pesta pernikahannya, maka walaupun terlambat saya sempatkan untuk dapat bertukar cerita dengan mereka.

Bertemu dengan para sahabat saya yang telah menikah ini, banyak munculkan perasaan di dalam diri saya. Seperti perasaan bahagia dan sedih. Bahagia akhirnya sahabat saya telah menemukan teman hidup yang akan mendampinginya di kala sedih dan senang. Sedih karena akhirnya dia duluan yang menemukan jodohnya dan saya ditinggalkannya seorang diri (yang ini fixed abaikan :p).

Awalnya banyak pertanyaan berkecamuk di dalam diri saya, “Bagaimana bisa 2 orang yang awalnya tidak saling mengenal, saling berjanji menghabiskan seumur hidup bersama-sama ? bagaimana bisa 2 orang yang awalnya asing, harus saling belajar untuk menjadi bagian terpenting di dalam hidupnya masing-masing ? Seberapa kuatkah janji pasangan kita itu bisa dipegang ? seberapa yakin dengan kadar cinta pasangan kita? seberapa kuat keyakinan pada pasangan kita, bahwa dia tidak akan berpaling kepada orang lain saat kita sudah tidak menarik lagi? cukupkah cinta menjadi landasan sebuah pernikahan ? dan pertanyaan-pertanyaan klasik nan awam lainnya. Sahabat saya pun dengan gusar berkata, “kalo lo mikir kaya gitu terus, selamanya lo gak bakal nikah-nikah.” *enjleb

Bagi sahabat saya yang tidak mau disebutkan namanya tapi saya yakin dia pasti membaca postingan ini, penikahan merupakan momen titik balik bagi seseorang dengan pasangan hidupnya. Segala perkenalan di awal seperti misalnya proses pacaran sebenarnya kurang membantu dalam proses memahami pasangan di suatu mahligai pernikahan. Karena selamanya, pernikahan merupakan proses untuk memahami. “Jadi buat apa pacaran ?” -katanya-

Masih menurutnya, untuk masalah pertanyaan-pertanyaan klise yang saya lontarkan di atas sebenarnya itu hanya sekelumit ketakutan saya terhadap masa depan. Yang sebenarnya tidak perlu ditakuti secara berlebihan. Memang tidak ada yang bisa memastikan bagaimana kehidupan nantinya. Pasangan kita, maupun diri kita sendiri. Manusia hanya bisa berharap, berusaha, dan berdoa. Semuanya tergantung pada apa yang pernikahan itu disandarkan. Apakah pada cinta yang kemungkinan memiliki kadarluasa, apakah harta yang kemungkinan bisa habis, apakah pada ketertarikan fisik yang kemungkinan akan menua, atau kepada Tuhan yang Maha Membolak-balikkan hati.

Dari percakapan dengan sahabat saya yang luar biasa ini, saya pun banyak mengambil pelajaran hidup darinya. Hingga saya berada pada suatu kesimpulan bahwa cinta memang tidak cukup dengan ketertarikan dengan lawan jenis saja. Tidak cukup hasrat menggebu-gebu atau keinginan yang kuat untuk saling memiliki. Cinta membutuhkan komitmen. Kita memiliki pilihan untuk mencintai, kita memiliki pilihan untuk memilih teman hidup yang seperti apa, dan di setiap pilihan tersebut kita memiliki tanggung jawab atasnya. Salah satunya adalah dengan pernikahan. Pernikahan adalah bukti komitmen seseorang akan cintanya. Cintanya pada pasangannya, keluarganya, dan pada Tuhannya.


Di ujung pertemuan, sahabat saya berpesan;

“Jika kelak ada laki-laki yang menurutmu tepat lalu memintamu pada wali-mu, tanyalah pada Allah apakah ia benar-benar tepat untukmu. Jangan hanya bertanya pada hati; yang lemah dan mudah terbolak-balik. Sandarkanlah segalanya hanya kepadaNya. Sekiranya dia memang tepat untukmu, akan selalu ada jalan untuk kalian dipersatukan. Tetapi bila tidak, akan selalu ada hikmah luar biasa yang mengikutinya. ” Aamiin allahumma aamiin.


P.S : hatur nuhun teteh uum sayang atas pertemuan luar biasanya *ups kesebut juga namanya ({})

See other stories

6 comments

  1. Hi Chia, salam kenal ya. To be honest, cerita ini yang sedang aku alamin juga. Kadang kita kangen sekali dengan momen-momen bersama teman. Namun, kenyataannya hidup menuntut untuk berubah. Tapi, bagaimanapun juga harus kita hadapi dan yakini bahwa sahabat kita tidak akan meninggalkan kita. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Afni,
      Yup bener banget, suka atau tidak perubahan harus dihadapi, kita dan sahabat kita pun memiliki jalan hidup masing-masing. Walaupun sudah jarang bertemu dan bertatap muka, namun doa akan selalu menyertai para sahabat, insyaAllah.
      btw trims yah Afni sudah blog walking :D

      Delete
  2. Semoga dengan baca tulisan ini, gue nggak salah lagi dengan cinta :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam fikri,
      Waduh sering salah dlm urusan cinta yah? =))
      Kalo menurut saya, salah itu manusiawi. Yg paling penting kita belajar banyak setelahnya :D #MamahDedehQuote

      Delete
  3. --> “Jika kelak ada laki-laki yang menurutmu tepat lalu memintamu pada wali-mu, tanyalah pada Allah apakah ia benar-benar tepat untukmu. Jangan hanya bertanya pada hati; yang lemah dan mudah terbolak-balik. Sandarkanlah segalanya hanya kepadaNya. Sekiranya dia memang tepat untukmu, akan selalu ada jalan untuk kalian dipersatukan. Tetapi bila tidak, akan selalu ada hikmah luar biasa yang mengikutinya. ” Aamiin allahumma aamiin." sangat setuju kak dengan kaat2 ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam lapak medan,
      Yap, bener banget!
      Terima kasih sdh blog walking :D

      Delete