Traveling

Berwisata ke Dago Pakar, Yuk!

1/13/2015 07:35:00 AM


“It’s not about the destination, it's about the journey.”

Pepatah di atas sepertinya berlaku pada perjalananku kali ini. Pada bulan September lalu, bersama dengan sahabat-sahabat yang tergabung di dalam kelompok assessment, kami memutuskan untuk mengunjungi Dago Pakar, Bandung. Awalnya begitu banyak tempat destinasi yang ingin kami kunjungi selain Dago Pakar, tapi setelah mendapat referensi dari salah satu teman, maka kami pun memilih Dago Pakar untuk kami jelajahi. Alasan kami waktu itu sebenarnya sederhana, kami ingin mencari udara segar sebelum bertarung dengan tugas assessment yang sepertinya akan menyita banyak masa muda kami dan benar saja hampir seperempat masa muda kami di semester 1 yang lalu habis dalam mengerjakan tugas assessment hihihi.

Kami mengunjungi Dago Pakar yang termasuk ke dalam tempat wisata Taman Hutan Raya Ir. Juanda. Saat itu kami menggunakan 3 motor dan seluruhnya kami membayar Rp. 70.000,- untuk harga tiket masuknya. Sesampainya disana kami langsung di sambut dengan kawasan alam yang masih asri dan puluhan pohon pinus meksiko yang rindang. Di hutan pinus ini cocok banget buat sekedar foto-foto, apalagi kami langsung melihat sepasang muda-mudi lengkap dengan kostum dan fotografernya sedang melakukan foto pre-wedding. Duh jadi kepengen kan :’)

Bergaya di Hutan Pinus



Beranjak dari hutan pinus kami menuju ke Goa Jepang yang berada tidak jauh dari gerbang masuk. Di depan Goa Jepang, sudah banyak pedagang yang menawarkan senter untuk disewakan. Tetapi karena kami masih mahasiswa (alesan) kami menolak mereka dengan halus dan berdalih menggunakan handphone yang memiliki senternya (kalo bisa gratis buat apa bayar ? hihihi). Di Dalam Goa Jepang tidak ada sumber penerangan sama sekali, kami pun hanya mengandalkan senter dari handphone untuk sumber penerangan kami. Udara di sekitar goa jepang pun sangat dingin dan lembab. Di dalam Goa Jepang masih dapat kami jumpai kalelawar yang menggantung di langit-langit goa. Menurut sejarah, Jepang membangun Goa ini sebagai basis pertahanan mereka dan melakukan tenaga kerja paksa. Sehingga konon, banyak korban yang berjatuhan selama proses pembuatan Goa ini. 

Gelap-gelapan di Goa Jepang

Selepas kami mengunjungi Goa Jepang, kamipun mengunjungi Goa Belanda. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara Goa Jepang dan Belanda. Udara di dalam Goa pun masih tetap dingin dan lembab. Namun menurut sejarah, Goa Belanda telah mengalami banyak renovasi. Diantaranya permukaan Goa Belanda sudah dilapisi semen dan terlihat lebih terawat dibandingkan dengan Goa Jepang.
Di depan Goa Belanda

Puas mengunjungi goa-goa, kami memutuskan untuk mengunjungi curug-curug yang berada di Dago Pakar ini. Setelah melihat peta, sepertinya kami tertarik mengunjungi Curug Lalay dibandingkan Curug Omas. Ini dikarenakan letak Curug Lalay lebih dekat dibandingkan curug omas yang berada di ujung kawasan Dago Pakar. Tapi entah mengapa setelah berjalan jauh, kami malah menuju Curug Omas. Tak terasa kami telah berjalan kurang lebih 5 kilometer dan menghabiskan waktu 2 jam lebih! :’). Sebenernya sepanjang perjalanan banyak tukang ojek yang lalu lalang menawarkan jasanya, tapi karena kembali lagi kami masih mahasiswa (alesan kedua) kami harus mengubur dalam-lama niat itu. Tidak ada pilihan lain, kecuali; jalan kaki hahaa.
Berjalan. Berjalan. dan terus berjalan.

Di tengah perjalanan, kami menemukan jembatan yang lumayan deh buat foto-foto :D

Sepanjang perjalanan ke Curug Omas, kami mendapatkan pemandangan yang sungguh luar biasa. Sepanjang mata memandang hanya hamparan hijau pepohonan yang amat teduh. Kami juga ditemani oleh gemerisik suara dedaunan diterpa angin yang seperti melantunkan nyanyiannya sendiri. Track menuju Curug Omas sebenarnya tidak terlalu berat, karena jalanannya telah dipasangi oleh paving block yag dikombinasikan dengan batu dan tanah. Tapi karena sudah jarang yang namanya olahraga, kami khususnya aku, gampang ngos-ngosan dan membutuhkan beberapa kali berhenti untuk istirahat sebelum sampai ke Curug Omas. Dan setelah mendaki gunung melewati lembah, jeng jeng jeng sampai juga ke Curug Omas! Horee!

Curug Omas terdiri dari dua air terjun utama yang ketinggiannya berkisar 30 meter. Walaupun sempat kecewa karena tidak bisa turun ke air terjunnya langsung, tapi lelahnya perjalanan terbayar sudah dengan mendengar gemericik air terjun yang menerpa bebatuan di bawahnya. Di sekeliling Curug Omas terdapat banyak monyet berkeliaran dengan bebas, tapi tenang aja kok mereka gak galak asal kita tetap jaga barang-barang pribadi yah :D 

"Tuhan memang tidak pernah salah dalam menciptakan alam, hidup berharmonisasi dengan alam adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh manusia."

 Hore sampe! :D

Matahari pun semakin meninggi dan kami pun mulai dihantui oleh rasa lelah dan lapar. Kami pun memilih memanjakan perut dengan makan di warung-warung  yang terletak di atas bukit tidak jauh dari Curug Omas. Harga yang ditawarkannya pun cukup terjangkau.

Inti dari perjalanan ini menurutku bukan hanya sekedar destinasi yang kami tuju, tapi lebih kepada cara kami menikmati setiap proses dari perjalanan itu sendiri. Berbagi cerita, saling melemparkan jokes dan tertawa, adalah cara lain dari terciptanya kebersamaan dengan para sahabat baruku ini.

"Karena setiap perjalanan memiliki cerita dan setiap cerita akan terus kita bawa  hingga raga tak kuasa."



TIPS dan TRICKS :              

  •  Jika Anda berniat untuk hiking, ada baiknya gunakan sepatu yang nyaman.
  • Bila ingin sedikit berhemat, Anda bisa membawa bekal dari rumah lalu menyewa tikar disana. Tapi membeli makanan dari warga lokal disana, merupakan salah satu bantuan kita dalam memajukan roda perekonomian warga lokal disana :D 
  • Gunakan prinsip, “Tidak ada yang diambil kecuali foto dan tidak ada yang ditinggalkan kecuali jejak kaki.” So, jangan buang sampah sembarangan yah! :D 
  • Dan terakhir, Selamat Berwisata! Yuk Explore Indonesia ! 

See other stories

7 comments

  1. Itu dimana ya? Bisa share rute kesananya kalau menggunakan kendaraan pribadi?

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan kendaraan umum juga makasih ^^

      Delete
    2. Salaam Titis,
      Ini ada di bandung di kawasan Taman Hutan Raya ir. djuanda.
      Rute kendaraan pribadi: dr jembatan pasoepati ambil arah Dago sampe ketemu bukit dago. Nanti dari situ ada petunjuk ke Dago Pakar.
      Rute angkot: dr terminal leuwipanjang naek angkot arah kalapa. Dr kalapa naek angkot lagi ke arah dago, turun di paling ujung dago pakar. Dr situ naek ojek ke taman hutan raya ir. Djuanda :D

      Delete
  2. Kayaknya seru tuh disana, sampe ke Goa gitu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seruuu banget, skalian uji nyali juga hehee. mesti coba! :))

      Delete
  3. bisa nih didatangin ntr... ada planning mw liburan pjg k Bandung dan Garut.. aku lg cari info mw kemana aja ntr :).. goa jepang ama goa belanda pgn tuh diliat.. Tapi yg ke curug rada ragu, secara anakku umurnya 2.5 thn juga ikut ;p. bisa2 sepanjang perjalanan minta digendong kalo k curug :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam mbak fanny,
      Bisa mbak dikunjungin bareng keluarga. Kalo mau ke curugnya selain jalan kaki, bisa naek ojek mbak. Satu motor biayanya bisa 20-30ribu untuk satu kali jalan :D

      Delete