Contemplation

Cerita Suatu Sore

12/03/2014 10:36:00 PM


sumber gambar: disini


Cerita ini bermula saat suatu sore aku berteduh di salah satu warung makan langgananku di dekat pasar. Setelah selesai makan, hujan pun turun cukup deras sedang aku lupa membawa payung. Jadilah aku menunggu derasnya hujan berhenti. Tak jauh dariku, ada seorang laki-laki paruh baya yang juga sedang berteduh. Dia membawa 2 keranjang mangga beserta pikulannya. Saat aku memperhatikannya, dengan senyum ramah serta logat sundanya yang khas laki-laki itu menawarkan dagangannya kepadaku. Awalnya aku tidak begitu tertarik, namun akhirnya aku menyerah untuk membeli dagangannya. 

Hujan tetap pada pendiriannya, ia tetap deras dan tak mau kalah dengan waktu. Aku pun harus lebih lama menunggu selesainya hujan di sore itu. Laki-laki paruh baya yang kukenal dengan sebutan Bapak itu membuka percakapan denganku, beliau bertanya tentang asal usulku, sedang apa di Bandung, dll. Hingga tiba pada giliran Bapak bercerita tentang kehidupannya. Ditinggal istrinya meninggal dunia saat ketiga anaknya masih kecil-kecil, memutuskan untuk tidak menikah lagi, dan memilih membesarkan ketiga putrinya seorang diri. Di sisi lain, aku salut dengan Bapak. Bagaimana tidak, beliau memilih untuk membesarkan anaknya seorang diri tanpa berniat menikah lagi. Ya kembali lagi hidup adalah pilihan.


Bapak bercerita tentang bagaimana susahnya mengurus anak perempuan di zaman sekarang. Zaman yang rentan dengan segala godaan bagi kaum hawa. Terlebih tidak ada sosok seorang istri yang membantunya mengurus ketiga putrinya. Sehingga Bapak memutuskan untuk memondokkan ketiga putrinya di pesantren daerah Tasikmalaya, selepas ketiga putrinya lulus dari sekolah dasar. 

Bapak juga bercerita tentang rutinitasnya sebagai penjual buah-buahan. Setiap pagi Bapak harus bangun pukul 3 pagi, dan mengambil dagangannya di tengkulak. Lalu Bapak mulai berjualan di pasar pada pagi hari dan berkeliling dari rumah ke rumah dari siang hingga sore hari. Selain bekerja keras, Bapak juga tak lupa merutini amalan Sholat Dhuha setiap harinya. Bapak bercerita, supaya setiap harinya Allah terus mmberikan keberkahan pada rejekinya. Lewat berjualan buah-buahan, bapak dapat menghantarkan ketiga putrinya hingga ke perguruan tinggi. Kini ketiga putrinya pun telah lulus dari perguruan tinggi. 2 diantaranya sudah menjadi guru dan bahkan kini Bapak telah mempunyai 2 cucu. 

Kamipun mengobrol banyak. Rasanya menyenangkan mendengarkan bapak menceritakan kisah hidupnya. Ada yang bilang, ‘kenapa kita bisa betah berlama-lama mengobrol dengan orang lain itu dikarenakan kita berada di dalam satu frekuensi dengan orang itu’

Bapak mengatakan bahwa aku mengingatkannya pada ketiga putrinya yang kini telah memiliki kehidupan masing-masing. Sedangkan Bapak mengingatkanku pada sosok almarhum ayah. Sosok yang sederhana, humoris, dan pekerja keras. Hingga aku berpikir saat kita merindukan seseorang, mungkin dia tidak akan hadir secara langsung dalam bentuk fisiknya. Namun bisa jadi lewat sosok orang lain yang menghantarkan petanda-petanda untuk sekedar memenuhi rasa rindu.

Banyak hal yang kupetik sore itu. Yah, dari seorang bapak yang telah berkeliling menjual buah selama 30 tahun lebih. Pelajaran tentang kehidupan. Aku jadi teringat perkataan salah satu dosenku, “Pelajaran tentang kebaikan tidak hanya dapat kau temukan di dalam kitab suci, rumah-rumah ibadah, alim ulama, dll. Tapi kau bisa mengambil hikmah kehidupan dimanapun dan kapanpun.” Yah bahkan dari seorang penjual mangga keliling.

Senjapun menjadi saksi, cerita laki-laki paruh baya yang tidak gentar dan tak pandai mengeluh membumbung di angkasa bersama doa-doa yang menghadap ke langit. Bahwa setiap kerja keras dan peluh yang bercucuran tidak akan ada yang sia-sia. Saat kita berdoa, semesta mengamini, dan Tuhanpun menjawab doa-doa kita. 

Sampai bertemu lagi, Pak ! insha Allah :)
 

See other stories

6 comments

  1. Serasa tertampar pas baca tulisan ini, terkadang mengeluh itu justru tak membantu. Justru semakin memperumit masalah, yg harus dilakukan adalah bekerja keras dan tak mengeluh ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Fandy, sama sayapun merasa tertampar mendengar cerita Bapak. malu banget sama diri sendiri yang sering mengeluh padahal banyak orang yang lebih besar masalahnya tapi engga pernah mengeluh. semoga kita bisa ambil hikmahnya yah, terima kasih sudah blog walking :D

      Delete
  2. Duh.. ceritanyaa bagus dan inspiratif banget :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam Fikri, Alhamdulillah. semoga kita dapat mengambil hikmahnya yah, terima kasih sudah Blog Walking :D

      Delete
  3. Replies
    1. Salaam wulan, terima kasih sudah blog walking :D

      Delete