Special Education

A Simple Love From My Special Student

5/21/2014 10:52:00 PM




Manusia bisa belajar dari siapapun dan kapanpun. Termasuk belajar tentang cinta dan ketulusan dari anak-anak berkebutuhan khusus.


Pagi itu aku terburu-buru datang ke sekolah, diantar dengan ojek langgananku kami berusaha menerobos macetnya jalanan ibukota. Sesampainya di sekolah, aku langsung berkumpul dengan guru-guru yang lain di library untuk melakukan kegiatan rutin kami di pagi hari yaitu Morning Prayer. Tak beberapa lama kemudian, seperti biasa di jendela kaca library sudah ada seseorang yang secara diam-diam mengamatiku dengan serius. Mengendap-endap dan berusaha meneropong dengan tangannya untuk melihat lebih jelas ke arahku. Jika aku tidak menghampirinya maka sudah bisa dipastikan dia tidak akan mau pergi dari kaca library itu.



“Assalamualaikum, Aby!” sapaku sambil menghampirinya.

“Heiiii! Waalaikumsalam, Ms. Chia!” jawab Aby diselingi senyuman yang merekah.
“Wah Aby sudah datang? Sarapan apa tadi di rumah?”
“Yaaa, sarapan gulaiiiiiii!” jawab Aby dengan mata berputar-putar.
“Wah enak pasti! Ms Chia boleh minta gak?”
“Yaaa boleh! Di rumah, tanjung mas raya” jawabnya dengan wajah yang menggemaskan.
“Aby hari ini bawa uang jajan berapa?” tanyaku sambil merogoh kantong bajunya.
“Dua ribu, empat ribu, enam ribu, delapan ribu, sepuluh ribu! Yaaa sepuluh ribu!” jawabnya sambil serius menghitung dan mengurutkan angka nominal pada 5 lembar uang pecahan 2000an.
“Good Job, Aby! Sekarang aby ke kelas yah, ms chia mau morning prayer dulu, Oke!” tutupku sambil memberikan telapak tangan dan kamipun saling ber ‘tos’ ria. Dan dengan segera Aby meninggalkanku dengan langkah berhati-hati menuju kelas. Dari kejauhan aku memandangi Aby hingga lama-kelamaan punggungnya menghilang dari pandanganku. 

Itu adalah sekelumit kebiasaan di pagi hari yang aku lalui bersama Aby; murid ‘berkebutuhan khusus’ku. Setiap pagi ia selalu menghampiriku di library dan menyapaku dengan riang. Kami saling bertegur sapa untuk melatih komunikasi verbalnya dan juga aku selalu meminta Aby untuk menghitung uang jajannya. Ini dilakukan semata-mata untuk melatih kemampuannya dalam menghitung dan mengidentifikasi uang.

 Aby dengan perawakan yang cukup gemuk, mempunyai wajah yang sangat innocent dan selalu membawa keceriaan bagi sekitarnya. Ada beberapa hal yang sangat ia sukai dan menjadi kebiasaannya, seperti: Ia sangat hafal dengan seluruh dialog film “Ice Age” (bahkan seringkali menirukan dengan sangat mirip bagaimana tokoh kartun kesayangannya itu berbicara), mengamati dengan penuh ketertarikan saat kipas angin berputar, mengawasi dengan serius pergerakan jarum jam, dan mendengarkan dengan seksama saat speaker kelas mengumumkan pergantian jam di sekolah.

Yah aku adalah Guru Pendamping Khusus di salah satu sekolah inklusif di Jakarta, dan Aby adalah salah satu murid “istimewa”ku. Mengapa kukatakan istimewa? Karena bagiku setiap anak adalah istimewa, sekalipun dia anak berkebutuhan khusus. 

Aby mungkin terlahir ke dunia dengan segala “keterbatasannya” namun siapa yang mengira bahwa dia datang bagaikan cahaya. Selalu menerangi sekelilingnya dengan keceriaan dan ketulusannya. Ia selalu memberi salam ketika bertemu dengan guru dan selalu membuat gemas orang-orang disekitarnya dengan tingkah lakunya yang lucu, hingga tak jarang banyak orang yang ingin mencoba mencubitnya karena gemas. 

Dibalik keterbatasan yang Aby punya, ia termasuk anak yang pantang menyerah. Ia tidak akan pernah tenang apabila tugas-tugas yang kuberikan belum diselesaikannya. Ia tidak pernah mengeluh dengan banyakkan tugas yang kuberikan. Yang ia lakukan hanya berusaha mengerjakannya hingga selesai.  Tidak ada kata protes, tidak ada kata mengeluh. Aby pun tidak pernah canggung saat tampil di depan orang banyak, entah membaca puisi, berpidato bahkan menari mampu dilakukannya dengan penuh percaya diri.

Aku memang guru pendamping khususnya. Namun aku justru banyak belajar dari nya. Aby mengajariku untuk tidak mengeluh walau sebanyak apapun hal-hal yang harus kukerjakan. Aby mengajariku untuk tidak terlalu mengambil pusing dengan segala permasalahan yang ada. Dan yang paling penting, Aby mengajariku arti kata bersyukur bahwa ternyata mengajar bukanlah sekedar bekerja untuk mendapat uang. Namun aku turut andil dalam mendidik anak istimewa yang Tuhan percayakan padaku. Dan Aby adalah salah satunya.

Aby adalah anak-anak yang diciptakan Tuhan lengkap dengan segala kelebihan serta kekurangannya. Walaupun Aby adalah seorang anak berkebutuhan khusus, namun Tuhan tidak pernah lupa meletakkan cinta dan kasih pada hati setiap manusia, termasuk pada diri dan hati Aby. Bahkan aku bisa memastikan Aby memiliki cinta yang tulus tanpa pamrih yang ia sebarkan untuk orang-orang yang ia sayang. Cinta untuk orang tuanya, adik-adiknya, teman-temannya, guru-gurunya, dan bahkan aku sebagai guru pendamping khususnya.

Kegiatan mengintip dari jendela kaca library yang ia biasa lakukan di pagi hari adalah untuk memastikan aku telah datang ke sekolah. Dan aku rasa itu adalah bentuk rasa cintanya kepadaku, yang ia tunjukkan dengan sederhana. Memakan bekal dengan lahap saat istirahat adalah bentuk rasa cinta Aby kepada mamanya yang telah memasak untuknya. Ini adalah salah satu bentuk cinta Aby yang ia tunjukkan dengan sederhana. Dan selalu memberi salam dengan senyuman termanis adalah bentuk cinta dan kasih sayang yang Aby tunjukkan kepada guru-gurunya. Hal ini pun ia tunjukkan dengan sederhana.

Aby mungkin tidak mengerti apa itu definisi cinta. Namun baginya cinta adalah kesederhanaan. Sesederhana kicauan burung di pagi hari, sesederhana semilir angin yang berhembus, dan sesederhana kepakkan kecil sayap kupu-kupu. Ia tidak pernah meminta imbalan dari kesederhanaan cinta yang ia berikan. Baginya saat orang disekitarnya berbahagia, ia pun akan berbahagia. Cinta yang sederhana. Namun dari kesederhanaan itulah, aku banyak menggambil hikmah dan pelajaran hidup. Dari berbagai rentetan takdir, hingga aku dipertemukan dengan Aby; salah satu murid istimewaku. Bahwa ‘kita tidak perlu menjadi hebat untuk menebarkan cinta dan kasih namun cukup memiliki hati yang tulus untuk menebar kebahagiaan untuk semua orang. Disitulah cinta dalam kesederhanaan ditemukan’.

Aby,
Kemanapun kau terbang nanti, semoga kedua sayapmu akan selalu kuat dalam mengarungi semesta .
Kemanapun kau berlayar nanti, semoga kau menjadi nahkoda ulung yang dapat membaca lautan.
Dan kemanapun kau pergi nanti semoga langkahmu selalu diterangi cahaya. Untuk menjadi terang bagi sesama


Regards,
Your Aid Teacher, Ms. Chia.
(Tulisan ini kupersembahkan untuk semua anak-anak istimewa dari orang tua luar biasa yang tak pernah lelah berjuang di luar sana, I Love You {} )




 

See other stories

4 comments

  1. Salaam! terima kasih sudah menyempatkan untuk membaca :")

    ReplyDelete
  2. aku juga punya anak special....
    namanya Robi.
    Dia tidak akan mau pulang sebelum berdoa dan salim padaku....
    dia anak dengan hambatan intelektual.
    cerita kita hampir sama, kita yang belajar pada mereka....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salaam safaruddin,
      Iya betul sekali, menjalani hari-hari sebagai guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus memang luar biasa dan sayapun banyak belajar dari mereka. Menjadi saksi hidup dari pertumbuhan anak-anak berkebutuhan khusus, bisa dibilang karunia :')

      Delete