Special Education

Pendidikan Inklusif untuk Semua

2/03/2014 09:46:00 PM


Aku adalah seorang guru bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Aku mengajar di salah satu sekolah inklusif di Jakarta. Sekolah inklusif merupakan sekolah reguler yang menerima anak-anak berkebutuhan khusus untuk dapat belajar bersama dengan anak-anak reguler lainnya. Aku termasuk orang yang cukup beruntung. Karena aku diterima di sekolah tersebut sebelum aku lulus kuliah. Sambil mengerjakan skripsi, akupun mulai mengajar di sekolah inklusif tersebut. Dan kini Alhamdulillah aku telah lulus, dan mulai menapaki garis takdir yang Tuhan gariskan untukku.


Bagiku dunia anak-anak berkebutuhan khusus merupakan dunia yang amat membahagiakan. Aku dapat mengenal berbagai macam karakter anak-anak berkebutuhan khusus yang sangat banyak. Jika ada 2 anak berkebutuhan khusus yang didiagnosis memiliki Autism, namun terkadang karakter mereka pun berbeda. Mereka memiliki karakter yang beragam. Kadang mereka sering melakukan hal-hal yang lucu sehingga membuatku tertawa dan kadang mereka melakukan hal-hal yang dapat mengejutkanku. Namun sesungguhnya mengajar mereka sangatlah membahagiakan.

Aku guru anak-anak berkebutuhan khusus, namun justru aku banyak belajar dari mereka. Yah dari murid-muridku yang spesial itu. Sebagai seorang guru pendamping khusus di sekolah inklusif, tugasku adalah mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas, membuat program khusus untuk mereka baik akademik maupun untuk keterampilan lifeskill yang nantinya diharapkan dengan keterampilan tersebut dapat mereka gunakan untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Mungkin terlihat mudah, namun sesungguhnya tantangan yang kuhadapi tidaklah kecil. Aku harus memperkenalkan dunia kepada murid-muridku dan akupun harus memperkenalkan murid-muridku kepada dunia. Mengapa tak mudah? karena dulu dunia anak-anak berkebutuhan khusus yang banyak dikenal adalah dunia segregatif. Dimana anak-anak berkebutuhan khusus hanya bersekolah di sekolah khusus (SLB), yang rata-rata siswanya hampir memiliki diagnosis yang sama. Sedangkan di sekolah inklusif anak-anak berkebutuhan khusus diperkenalkan dengan dunia yang sebenarnya. Dimana heterogenitas siswa sangat beragam.

Konsep pendidikan inklusif merupakan antitesis dari penyelenggaraan pendidikan luar biasa yang segregatif dan eksklusif, yang memisahkan antara anak berkebutuhan khusus dengan anak lain pada umumnya yang biasa disebut anak reguler. Pendidikan inklusif hadir dengan mentransformasikan sistem pendidikan dengan meniadakan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi setiap siswa untuk berpartisipasi penuh dalam pendidikan. Bahwa secara garis besarnya setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, termasuk anak berkebutuhan khusus.

Tantangan terbesar di sekolah inklusif adalah penerimaan siswa-siswa reguler terhadap siswa berkebutuhan khusus. Terkadang karena ketidaktahuan serta minimnya informasi banyak siswa berkebutuhan khusus yang menjadi sasaran bullying, diskriminasi, bahkan dikucilkan dalam pergaulan sehari-hari di sekolah. Tindakan yang tak terpuji tersebut tentunya dapat menghambat perkembangan akademik maupun sosial anak-anak berkebutuhan khusus. Di satu sisi dengan diadakannya sistem inklusif diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang baik dan dapat bersosialisasi dengan semua siswa namun di sisi lain mereka mendapatkan penolakan dari lingkungan inklusif itu sendiri.

Aku termasuk orang yang suka bermimpi. Bagiku, “Saat kau bermimpi kau hanya memiliki 2 pilihan; tetap tertidur atau bangun dan mewujudkan mimpi-mimpimu itu.” Tiada orang yang tak ingin mimpinya jadi kenyataan, namun terealisasikan atau tidaknya mimpi tersebut tergantung dari seberapa keras dan besar usaha orang tersebut dalam mewujudkannya. Aku mempunyai mimpi yang tentunya berkaitan dengan anak-anak berkebutuhan khusus. Aku telah masuk ke dalam dunia mereka, rasanya aku sudah tidak bisa untuk tidak jatuh cinta pada mereka. Yah aku mencintai mereka, anak-anak berkebutuhan khusus. Dan mengajar anak-anak berkebutuhan khusus, bagiku adalah sebuah passion serta pengabdian diri.

Mimpi besarku adalah semoga kelak aku memiliki sekolah dimana aku bisa mengembangkan segala kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah dimana anak-anak berkebutuhan khusus dapat berangkulan dengan siswa reguler lainnya. Sekolah yang tidak mementingkan segala keterbatasan mereka, namun justru menggali segala kemampuannya. Dan sekolah dimana kesetaraan itu ada. Bahwa sesungguhnya setiap orang terlahir setara/sederajat dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama pula. Sehingga tidak ada tindakan bullying, diskriminasi, serta penolakan sosial terhadap seseorang yang dianggap “berbeda”.

Namun mimpi jangka pendekku adalah agar anak berkebutuhan khusus mendapat penerimaan layak di sekolah maupun masyarakat. Penerimaan yang baik terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat dapat meningkatkan segala aspek perkembangannya. Seperti halnya manusia pada umumnya akan dapat berkembang apabila lingkungan sekitarnya mendukung. Begitupun dengan anak-anak berkbutuhan khusus, yang dapat berkembang dengan penerimaan serta dukungan dari lingkungan sekitar.

Tentunya ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, namun aku berkeyakinan jika segala pihak baik keluarga, guru, sekolah, masyarakat, serius dalam menyikapi hal ini tidak mustahil hal ini dapat diwujudkan. Beberapa kasus tentang bullying, diskriminasi, serta penolakan terhadap anak berkebutuhan khusus di sekolah maupun lingkungan masyarakat lebih dikarenakan tidak terbiasanya masyarakat umum dalam melihat segala sesuatu yang “berbeda”. Anak-anak berkebutuhan khusus yang memiliki fisik, sifat, karakter, kebutuhan yang “berbeda” banyak mendapat celaan karena dianggap itu hal yang asing dan lucu untuk diperbincangkan. Seperti halnya menggunakan kata “autis” ataupun “cacat” dalam candaan sehari-hari. Padahal itu tidak lucu sama sekali.

Aku mempunyai mimpi bahwa suatu hari anak-anak berkebutuhan khusus dapat bergandengan tangan bersama-sama, dapat berjalan beriringan, serta mendapat perlakuan yang sama dengan anak-anak reguler lainnya. Hal-hal sederhana yang sering kulakukan adalah memberikan video motivasi di kelas yang dapat ditonton oleh anak-anak reguler dan anak-anak berkebutuhan khusus. Dimana di video tersebut dijelaskan bahwa anak-anak berkebutuhan khusus dapat berprestasi di berbagai bidang, baik bidang akademi, olahraga, keterampilan, dll layaknya anak-anak reguler lainnya. Bahwa keterbatasan mereka bukalah menjadi hambatan untuk mereka berprestasi. Bahwa keterbatasan mereka bukan berarti  dunia mereka terbatas.

Aku berharap pendidikan inklusif bukanlah hanya sekedar proyek pemerintah di bidang pendidikan, namun pendidikan inklusif adalah proses pembelajaran untuk segala pihak baik siswa reguler, guru, orang tua, maupun masyarakat yang menjelaskan bahwa setiap orang “berbeda”. Sesuai dengan semboyan Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” bahwa walaupun kita berbeda namun tetap satu juga. Begitupun dengan anak bekebutuhan khusus yang seyogyanya tidak kita pikirkan segala keterbatasan mereka namun kita menerima mereka dan merangkulnya. Dan mimpiku lagi adalah mewujudkan Indonesia yang inklusif. Bahwa Indonesia adalah negara yang ramah, aksesibel, maupun peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Semoga!

See other stories

0 comments