Contemplation

Refleksi Diri

6/15/2013 10:28:00 AM




Jika boleh memilih, setiap manusia pasti ingin yang terbaik dalam hidupnya. Entah memiliki harta yang cukup, wajah yang baik rupanya, keluarga yang sesuai dengan keinginannya, segala macam urusan hidup yang mudah untuk dicapai dan diselesaikan, dan bahkan pasangan yang sesuai kriteria. Jika semua itu tercukupi mungkin sempurna hidup seseorang. Tapi emang ada orang yang punya hidup kaya gitu? Kehidupan yang sempurna?

Dulu, dulu banget, zaman-zaman aku masih mencari jati diri (sekarang juga sih) aku sering protes ke Allah SWT kenapa hidup aku kaya gini, engga kaya gitu. Kenapa aku begini, engga begitu. Ngeluh sih engga, tapi sering mikir kenapa begini kenapa begitu. Yah intinya engga bersyukur. Hingga akhirnya sebuah proses perjalanan hidup mengajarkan aku segalanya.

Yah namanya juga hidup, pasti perjalanan kan. Yang namanya perjalanan pasti adalah suatu proses kita berpindah dari suatu tempat ke tempat lain hingga ujungnya nanti kita sampai suatu tempat yang emang tujuan terakhir kita. Terkadang dalam perjalanan tersebut ada aja kejadian-kejadian “lucu” yang sebenernya mengandung hikmah luar biasa. Nah kalo manusia peka, sebenernya itu bisa jadi moment “titik balik” dalam hidupnya.

Aku percaya loh, setiap orang pasti akan mengalami sebuah moment  “titik balik” dalam hidupnya. Entah sebuah peristiwa atau kejadian yang mungkin engga bakal masing-masing kita lupain seumur hidup. Entah sekali atau berkali-kali. (Kok gue gak ada moment kaya gitu sih, Chi? Oh berarti belum, atau coba deh flashback siapa tau kurang peka).

Ada sebuah peristiwa yang mungkin engga bakal aku lupain seumur hidup, karena dari sebuah peristiwa ini segala titik balik hidupku emang terjadi. Mungkin aku engga bisa ceritain gimana detailnya karena terlalu personal (hehee) tapi aku akan cerita hikmahnya apa.

Hidup kadang emang banyak rasa, manis asem asin, rame rasa! Sebenernya kalo manusia peka, bakal banyak hikmah yang bisa diambil. Tapi kadang kita cuma terlarut  sama suatu masalah tanpa mau tau hikmahnya apa. Contohnya: kalo ada yang mukanya pas-pasan mungkin ngeluhnya, kok muke gue gini sih? Engga cakep gitu kaya orang-orang. Yaudah terima aja, kali aja kalo muka lo dikasih lebih sama Tuhan lo bakal jadi manusia tersombong sedunia. Syukurin aja yah :p (aku cuma becanda yah, suwer!).

Akupun gitu, aku dulu banyak mengeluh bla bla bla, tapi tau-taunya Allah punya rencana lain di hidup aku. Setelah aku flashback ternyata aku banyakan ngeluhnya daripada bersyukurnya. Mungkin sebelum ini sebenernya ada peristiwa yang emang bisa jadi moment “titik balik” aku, tapi aku engga peka aja. Bersyukur Allah sempet menyadarkan aku dan mungkin menamparku bolak-balik supaya sadar.

Ternyata hikmahnya luar biasa, aku jadi semakin paham kalo hidup itu ternyata emang gak bisa sempurna, gak bisa meluluk sesuai sama harapan kita, kadang manis kadang kejam. Kalo kadang kita suka mikir kehidupan seseorang “keliatannya” sempurna, tapi itu kan cuma “keliatannya” kita dari luar aja. Karena setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Yang ngebedain gimana cara menyelesaikannya aja. Jangan pernah ngebanding-bandingin hidup yang kita jalanin sama orang lain, karena emang yah udah pasti beda. Karena tiap orang pasti punya takdir yang udah digariskan Allah beda-beda juga.

Selalu berusaha melihat segala sesuatu dari sisi positif, mungkin itu hikmah terbesarnya. Emang sih susah, apalagi kalo manusia udah terbiasa sama “zona nyaman”nya. Apalagi kalo udah terbiasa sama mikir negatif duluan. Tapi bisa dicoba kan? Tapi bisa dilatih kan? Bisa! (kalo mau). Intinya seberapa besar kemauan kita sih.

Hingga pada pangkalnya aku mikir, apa yang sebenernya yang gue cari? Apa tujuan hidup gue? Apa cuma kesenangan sejam dua jam. Apa cuma ketawa-ketawi having fun. Apa cuma nyari uang yang banyak terus ngabisinnya dengan segala hal yang gue suka. Apa itu semua yang disebut bahagia? apa itu bukan kebahagiaan semu? Apa ada kebahagiaan yang hakiki?

Hingga tulisan ini aku buat, aku masih belajar untuk mencintai kebahagiaan yang hakiki itu sendiri. Dan mungkin akan seumur hidup terus belajar. Kebahagiaan yang hakiki itu engga perlu dikejar apalagi dicari. Dia sebenernya ada jauh di dalem lubuk hati kita. Tinggal belajar mencintainya aja. Dan hingga sampai saat ini akupun masih introspeksi diri kalau-kalau selama ini aku cuma ngejar kebahagiaan semu. Kebahagiaan sejam dua jam. Kebahagiaan yang cepet dateng cepet ilang juga.

Aku juga masih sangat amat belajar, jauh dari sempurna. Jadi mohon maaf kalo tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, karna aku juga masih belajar. Aku juga mohon maaf jika tulisan ini terkesan menggurui, karena aku hanya berniat untuk sharing. Serius! (hehehe). aku juga engga tau takdir apalagi yang dikasih Allah. Tapi apapun itu semoga Dia selalu menyertai di setiap langkah-langkahku, kamu, dan kalian semua, aamiin!

Jika hidup memberimu pilihan
Pilihlah sesuatu yang belum pernah engkau pilih
Karena dari situ engkau akan tahu
Engkau akan mengenal
Dan engkau akan belajar

Jika hidup memberimu kepahitan
Rasakan saja rasa pahit itu
Telan habis bulat-bulat
Karena nantinya engkau tak akan kaget dengan kepahitan lagi

Jika hidup memberimu kebahagiaan
Nikmati setiap tetes rasanya
Jangan kau telan habis bulat-bulat
Karena kau bisa terlena
Dan pada akhirnya kau akan terjerembab

Jika Tuhan memberimu kehidupan
Belajarlah untuk menghargai setiap detiknya
Setiap helaan nafas
Setiap denyutan nadi
Karena Tuhan bisa mengambil kehidupanmu, kapan saja sesuka hati-Nya

See other stories

0 comments